Presiden ajak Hipmi masuk ke sektor pangan

Presiden RI Joko Widodo mengajak para pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) masuk ke sektor pangan, untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional.

"Kemandirian pangan penting. Saya mengajak anggota Hipmi untuk masuk ke bidang ini," kata Presiden saat menyampaikan sambutan pada acara perayaan 50 Tahun Hipmi di Jakarta, Jumat.

Presiden mengatakan masalah besar perekonomian saat ini bersumber dari dua hal, yakni kenaikan harga energi dan kenaikan harga pangan, yang menimbulkan kenaikan inflasi.

Presiden menjelaskan saat ini harga gas alam sudah naik 153 persen, harga batu bara naik 133 persen, harga minyak naik 58 persen, dan harga CPO sudah naik 27 persen.

Namun, Kepala Negara meminta Hipmi berhati-hati dengan kenaikan harga di luar hal tersebut seperti gandum, jagung, kedelai yang mulai naik kurang lebih 30 persen.

"Nanti imbasnya ke mana-mana, karena penghasil gandum 30-40 persen Ukraina dan Rusia sekarang bermasalah, gandum seluruh dunia harganya naik. Dan kita di sini, ada mie dan roti semuanya berasal dari gandum," kata Presiden.

Begitu pula dengan jagung, Presiden menyampaikan 7 tahun yang lalu Indonesia masih mengimpor 3,5 juta ton jagung dari luar. Sedangkan data terakhir kuartal 1, kata Presiden, impor jagung sudah di angka 800 ribu ton.

"Artinya turun sangat drastis. Tapi masih ada PR 800 ribu tadi harus diselesaikan, siapa pun yang memiliki lahan, harus tanam jagung agar nggak impor lagi," ujarnya.

Presiden mengatakan kenaikan harga jagung akan menyebabkan kenaikan harga pakan ternak, harga telur, dan harga ayam.

Begitu juga dengan kedelai yang mengalami kenaikan 33 persen, yang bisa menyebabkan kenaikan harga tahu dan tempe serta berimbas ke inflasi.

"Ini yang perlu saya ingatkan, hati-hati yang berkaitan dengan pangan. Tapi peluang ke pengusaha utamanya anggota Hipmi masuk ke bidang-bidang ini. Pangan dan energi peluang, karena diperkirakan hari ini ada 13 juta orang yang sudah mulai kelaparan di berbagai negara karena urusan pangan," jelasnya.

Presiden mengingatkan jumlah negara yang telah menghentikan ekspor pangan saat ini sebanyak 22 negara. Dia mengajak HIPMI merambah sektor pangan, dengan mulai menanam jagung, sorgum hingga porang.

"Tanam sorgum, terutama di NTT. Kita sudah coba 40 hektare di NTT tumbuh sangat baik. Kemudian porang, ini adalah pangan masa depan, karena gluten free, bisa ditanam di manapun dan tanaman-tanaman lain yang kita miliki, sagu, singkong dan lain-lain," jelas Presiden.

Presiden mengatakan mengingat ke depan akan ada masalah perubahan iklim, maka urusan pangan akan menjadi persoalan seluruh negara.


Baca juga: Kementan perlu fokus penanganan pascapanen atasi kenaikan harga cabai
Baca juga: Moeldoko: Sorgum jadi "game changer" masalah ketahanan pangan
Baca juga: Pakar: Kekurangan pangan adalah krisis kesehatan global berikutnya

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel