Presiden Bolivia Morales mundur setelah kehilangan dukungan militer dan polisi

Oleh AFP

Presiden Bolivia Evo Morales menyatakan mengundurkan diri, Minggu, setelah militer dan kepolisian menarik dukungan mereka, menyusul tiga pekan yang diwarnai unjuk rasa dan aksi kekerasan terkait terpilihnya kembali Morales dalam pemilu yang hasilnya dipersengketakan.

"Saya mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai presiden," kata Morales yang berhaluan kiri dalam pidato yang disiarkan televisi, mengakhiri satu hari situasi yang berubah cepat, di mana beberapa menteri dan pejabat senior berhenti ketika dukungan untuk presiden terlama di Amerika Latin itu runtuh.

Jalan-jalan di La Paz langsung menjadi arena perayaan warga Bolivia yang gembira dengan membakar petasan dan mengibarkan bendera merah, kuning, dan hijau negara itu.

Kandidat utama oposisi dalam pemilihan umum, mantan presiden Carlos Mesa, mengatakan rakyat Bolivia "telah memberi pelajaran kepada dunia. Besok Bolivia akan menjadi negara baru."

Kuba dan Venezuela, sekutu lama pemimpin sayap kiri itu, mengecam "kudeta".

Morales - mantan petani koka dan presiden warga asli pertama Bolivia - dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden 20 Oktober dengan keunggulan tipis, memberinya masa jabatan keempat yang kontroversial, setelah pertama kali mengambil alih kekuasaan pada tahun 2006.

Namun pihak oposisi mengatakan ada kecurangan dalam penghitungan suara dan tiga minggu protes jalanan terjadi, di mana tiga orang tewas dan ratusan lainnya terluka.

Lembaga Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) melakukan audit pemilihan dan pada Minggu melaporkan penyimpangan dalam hampir setiap aspek yang diperiksa: teknologi yang digunakan, rantai surat suara, integritas penghitungan, dan proyeksi statistik.

Di saat rakyat Bolivia terus melakukan demonstrasi di jalan, Morales menyerukan pemilihan umum baru, tetapi ini tampaknya tidak cukup untuk menenangkan keributan, dan para komandan angkatan bersenjata dan polisi bergabung dengan seruan untuk pengunduran diri presiden.

Kekerasan terus berlanjut Minggu pagi ketika satu iring-iringan bus yang membawa pendukung oposisi ke La Paz diserang, yang menyebabkan tiga orang cedera, termasuk seorang yang terkena tembakan.

Morales mengecam misi OAS, menuduh lembaga itu membuat "keputusan politik", bukan keputusan teknis.

"Beberapa teknisi OAS melayani ... kelompok-kelompok yang punya kekuatan."

Menjelang mengumumkan bahwa dia akan mundur, Morales melakukan perjalanan dengan pesawat ke wilayah perkebunan koka Chimore di Bolivia tengah, tempat awal kariernya dalam politik.

Di sanalah pada 1980-an presiden yang berasal dari warga asli Bolivia itu mengukir namanya sebagai pemimpin serikat pekerja yang membela petani koka, yang di pedesaan Bolivia digunakan untuk tujuan pengobatan dan keperluan lainnya. Koka juga merupakan bahan baku untuk membuat kokain.

Dia didampingi oleh wakil presiden Alvaro Garcia Linera, yang juga mengundurkan diri.

Morales bersikeras dia tidak melarikan diri dari tanggung jawabnya.

"Aku tidak harus melarikan diri. Aku belum mencuri apa-apa," katanya.

"Dosa saya adalah menjadi orang asli. Untuk menjadi penanam koka."

"Hidup tidak berakhir di sini. Perjuangan berlanjut," katanya.

"Saya mengundurkan diri sehingga mereka (para pemimpin oposisi) tidak terus menendang saudara-saudara kita," katanya, merujuk pada protes keras selama berminggu-minggu sejak kemenangannya dalam pemilihan presiden..

Morales bersikeras pemerintahannya meninggalkan "banyak kemenangan sosial". Bank Dunia telah memuji pemerintahannya atas penurunan tingkat kemiskinan dari 45 persen populasi pada 2010 menjadi 35 persen pada 2018.

Di media sosial, warga Bolivia berspekulasi bahwa Morales mungkin meninggalkan negara itu, mungkin pergi ke Argentina, yang baru saja memilih pemerintah kiri-tengah.