Presiden COP26: Isu Perubahan Iklim Sama Pentingnya dengan Krisis COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) mengadakan acara diskusi antara Ketua FPCI Dino Patti Djalal dengan Presiden United Nations Climate Change Conference ke-26 (COP26) Alok Sharma pada Rabu (2/6/2021).

Dalam acara diskusi yang disiarkan melalui laman Youtube mereka, Dino Patti Djalal mengungkapkan kesulitan memobilisasi opini publik tentang pentingnya keamanan iklim, karena krisis COVID-19 yang kini masih berlangsung di Indonesia membuat isu perubahan iklim tak banyak menjadi perhatian.

Menanggapi hal tersebut, Alok Sharma mengatakan, bahwa "kita perlu menerapkan keadaan darurat yang sama untuk mengatasi perubahan iklim seperti yang kita terapkan pada Krisis COVID-19".

"Persoalan besarnya juga berarti memastikan negara maju bergerak dalam membantu ekonomi negara-negara berkembang," lanjut Sharma.

Sharma membeberkan, bahwa pada tahun 2009, negara-negara maju menyampaikan janji untuk ratusan miliar dolar pada tahun 2020 dalam mendukung ekonomi berkembang.

"Salah satu hal yang sangat saya tekankan untuk negara maju, bahwa ini adalah masalah kepercayaan, kita harus menyampaikannya, untuk mendukung negara-negara berkembang (secara ekonomi)," jelasnya.

"Saya pikir dalam beberapa tahun terakhir, Anda akan melihat perubahan di mana pemerintah, bisnis, masyarakat sipil, mulai berbicara dari suara yang sama (soal perubahan iklim)," imbuh Sharma.

"Saya pikir juga penting bahwa LSM, masyarakat sipil, para pemuda, terus menekankan pentingnya masalah ini (perubahan iklim) dan terus meminta pemerintah bergerak - di mana mereka berada di dunia," tambahnya.

Sharma Peringatkan Dunia Sudah Lalui Suhu Terpanas

Demonstran membawa poster saat aksi di dekat Gedung Putih di Washington, AS, Kamis (1/6). Demonstran memprotes keputusan Donald Trump yang menarik AS dari perjanjian Paris tentang perubahan iklim yang disepakati pada 2015. (AP/ Susan Walsh)
Demonstran membawa poster saat aksi di dekat Gedung Putih di Washington, AS, Kamis (1/6). Demonstran memprotes keputusan Donald Trump yang menarik AS dari perjanjian Paris tentang perubahan iklim yang disepakati pada 2015. (AP/ Susan Walsh)

"COP26 sudah tertunda dalam satu tahun, dan selama tahun itu kita belum melihat banyak pembahasan soal perubahan iklim," sebutnya.

Sharma pun memperingatkan, bahwa "Tahun lalu adalah tahun terpanas yang tercatat, juga dekade yang paling terpanas".

Pesan utamanya, yang ingin disampaikan dalam COP26, adalah bagaimana dunia harus bersatu dan kita mempertahankan target 1,5 derajat dalam jankauan," ujarnya.

Dijelaskannya juga, bahwa dunia sudah melihat dampak perubahan iklim di seluruh dunia.

"Kita melihatnya di berbagai tempat di dunia, termasuk Indonesia. Para ilmuan juga sudah mengatakan bahwa kita sudah mencapai lebih dari 1 derajat dalam rata-rata kenaikan suhu global," pungkasnya.

Alok Sharma pun menceritakan pengalamannya ketika melakukan perjalanan ke Afrika, saat ia meninggal karena melihat tempat tinggal mereka karena perubahan iklim.

"Ini adalah dekade untuk memutuskan, maka dari itu kita membutuhkan negara-negara di dunia untuk maju dalam ambisi itu," jelas Sharma.

Sharma, dalam kesempatan itu, juga menyerukan negara-negara G, termasuk Indonesia, untuk maju dalam berupaya mencegah perubahan iklim.

"Kita butuh G7, termasuk Indonesia untuk bertindak," katanya.

Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah COVID-19

Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah COVID-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah COVID-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel