Presiden Filipina perpanjang karantina wilayah lebih dari sembilan pekan

MANILA (Reuters) - Filipina akan memperpanjang karantina wilayah lebih dari sembilan pekan di "beberapa daerah" pada akhir pekan ini, menurut presidennya.

Keputusan itu telah memperpanjang salah satu kebijakan karantina komunitas yang paling ketat dan terlama di dunia dalam upaya mencoba mengendalikan wabah virus corona.

Hal itu akan melawan tren pelonggaran karantina global saat negara-negara berusaha untuk mencapai keseimbangan antara upaya membendung wabah dan memulihkan keadaan normal untuk membatasi dampak ekonomi.

Presiden Rodrigo Duterte menyebutkan perpanjangan itu dalam pertemuan dengan gugus tugas COVID-19 yang ditayangkan di televisi pemerintah pada Selasa pagi, tetapi tidak menyebutkan secara spesifik di mana karantina wilayah akan dilonggarkan atau dipertahankan, dan untuk berapa lama.

Pengumuman rinci diperkirakan disampaikan pada Selasa.

Perpanjangan karantina selama dua pekan lagi di ibu kota, Manila, akan memperpanjang aturan pembatasan pergerakan hingga 11 pekan, atau 80 hari, lebih lama dari karantina 76 hari di Kota Wuhan di China, pusat penyebaran virus global.

Filipina telah melaporkan lebih dari 11.000 kasus infeksi corona dan 726 kematian. Tetapi sejauh ini hanya menguji 158.000 orang - jauh lebih sedikit daripada negara lain - yang membuatnya kesulitan untuk mengukur penyebaran secara menyeluruh. Infeksi stabil dalam beberapa minggu terakhir pada 150-300 per hari dengan jumlah peningkatan pengujian.

Duterte mengatakan langkah-langkah akan dilonggarkan di beberapa tempat tetapi mendesak kewaspadaan dan mengatakan mengenakan masker adalah "suatu keharusan".

"Bagi mereka yang diizinkan keluar dan bekerja dan bagi yang tidak, ingatlah bahwa pelonggaran pembatasan, ini bukan untuk mengatakan bahwa COVID sudah tidak ada lagi," katanya pada pertemuan itu. "Kami tidak dapat membiarkan gelombang kedua atau ketiga terjadi."

Yang makin pemperumit pengambilan keputusan adalah ekonomi yang didorong oleh konsumsi yang sekarang bergerak menuju resesi karena penguncian yang membatasi pengeluaran dan menjadi rem pertumbuhan tanpa gangguan selama dua dekade pada kuartal pertama, yang menyusut menjadi 0,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Itu jauh dari perkiraan ekonom tentang ekspansi 3,1%.

Manila dan sekitarnya, sebuah kota ramai dengan sedikitnya 13 juta orang dan jutaan pekerja informal, tetap menjadi pusat infeksi, dengan menyumbang 64% kasus terkonfirmasi dan 72% dari kematian yang terjadi negera itu.

Karantina wilayah di Manila dan kota-kota besar lainnya berisi aturan karantina rumah, jarak sosial, pembatasan transportasi, imigrasi dan kegiatan di luar ruangan, serta membatasi pergerakan pekerja di sektor-sektor penting dan aturan satu orang per rumah tangga untuk kunjungan ke supermarket, apotek, atau klinik.

Filipina adalah salah satu negara pertama yang melarang penerbangan ke dan dari China setelah tiga pengunjung China dinyatakan positif, dan itu adalah negara ketiga setelah China dan Italia yang memberlakukan aturan karantina rumah, meskipun hanya melaporkan sedikit kasus bila dibandingkan dengan sejumlah tempat lain.