Presiden Jokowi: Coret dari Katalog Produk Impor

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menemukan bermacam-macam alasan jajarannya membeli produk impor. Padahal, menurutnya, masih banyak produk dalam negeri yang layak.

Dia pun meminta produk-produk impor yang masih ada di e-katalog untuk diturunkan dan diprioritaskan produk dalam negeri.

"Saya tahu banyak kementerian, banyak lembaga, banyak daerah tidak mau membeli produk dalam negeri. Alasannya macam-macam, speknya tidak pas lah, kualitasnya tidak baik lah. Alasan banyak sekali. Itu yang bapak ibu (APIP dan BPKP) kawal," katanya dalam pembukaan Rakornaswasin BPKP, Selasa (14/6).

"Ada 842 produk di dalam e-catalog yang sebetulnya produksi di dalam negerinya itu ada. Untuk apa itu? Coret. 842 itu. Drop kalau memang produk di dalam negerinya sudah ada. Untuk apa dipasang di e-catalog? Inilah tugasnya APIP, tugasnya BPKP," kata dia.

Dia pun bercerita saat kunjungan kerjanya ke Wakatobi, Sulawesi Tengah. Dia menemukan banyak produk lokal dengan kemasan yang sudah lebih baik. Maka dia menyayangkan masih ada di pemerintahan yang memilih membeli produk impor. Padahal, kualitas produk dalam negeri bisa bersaing.

"Saya berikan contoh saja yang mesin jahit loosefeed. Coba dilihat harga impor Rp 13 juta, harga dalam negeri Rp 12.800.000, apa sih bedanya? Lebih murah jelas. Sudah tutup mata beli yang PDN itu. Tidak ada alasan," katanya.

Presiden membeberkan produk lainnya. Produk nasal oksigen, kanula pipa oksigen. Harga barang impor Rp 8.300, sedangkan produk dalam negeri harganya Rp 6.900.

Dia juga menemukan alat mekanik impor dengan harga Rp 22.900.000, sedangkan produk lokal di harga Rp 28.000.000. Angka ini sedikit lebih tinggi jika dibandingkan.

"Beli tetap yang PDN, jangan alasannya lebih murah yang impor. Tidak. Terpaut sedikit tetap beli yang produk dalam negeri karena nilai tambah ada di dalam negeri, lapangan kerja ada di dalam negeri. Tidak ada alasan," tambahnya.

Otak Pintar Saat Ambil Keputusan Bodoh

saat ambil keputusan bodoh rev1
saat ambil keputusan bodoh rev1.jpg

Presiden Jokowi mengisahkan pengalamannya 5 tahun lalu. Dia meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membeli pipa. Namun dia mendapat alasan tak adanya spesifikasi yang sesuai.

"Saya saat itu 'apa sesulit ini membuat pipa?', eh saya ke pabrik pipa pak semuanya ada pak. Bapak mau cari apa ada, ukuran apa ada, kualitas apa ada. Ini kita ekspor semuanya pak ke Jepang ke Amerika Serikat ke Eropa. Loh loh loh yang orang sana beli produk pipa kita malah kita beli impor. Ini kan sekali lagi kita ini orang pintar-pintar tapi melakukan hal yang sangat bodoh sekali," paparnya.

"Ini yang harus dikawal, yang harus diawasi. Saya minta ini betul-betul berhasil. Sehingga bisa mentrigger pertumbuhan ekonomi, growth kita menjadi tambah, lapangan kerja kita menjadi semakin banyak," tambah Presiden Jokowi.

Dia mengasumsikan, dengan pembelian produk dalam negeri, pabrik yang biasanya memproduksi 1000 barang, akan meningkat hingga 10.000 barang. Hal ini terjadi jika pemerintah daerah melakukan pemesanan.

"Mau tidak mau dia akan ekspansi memperluas pabriknya, memperluas industrinya, artinya pasti juga tambah tenaga kerja. Pasti dia akan investasi tidak usah cari investor-investor dari luar kalau ini berkembang. Artinya APBN, APBD itu bisa mentrigger investasi, bisa membuka lapangan pekerjaan ya caranya seperti ini," tuturnya.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) nampak geram masih banyak kementerian dan lembaga belanja produk impor. Padahal, kata dia banyak produk lokal yang masih bisa dimanfaatkan.

Dia mengaku sedih uang dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) malah dipakai untuk belanja produk luar negeri. Padahal, mengumpulkannya diakui sulit.

"Ini uang rakyat, uang yang dikumpulkan dari pajak baik PPN, PPh Badan, PPh perorangan, PPh karyawan, bea ekspor, dari PNBP dikumpulkan dengan cara yang tidak mudah kemudian belanjanya belanja produk impor. Bodoh sekali kita. maaf. Kita ini pintar-pintar, tapi kalau caranya seperti ini bodoh sekali kita. Saya harus ngomong apa adanya," katanya.

Reporter: Arief Rahman

Sumber: Liputan6 [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel