Presiden Jokowi Jelaskan Pernyataannya soal Benci Produk Asing

Agus Rahmat, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden Joko Widodo, akhirnya menjelaskan maksud pernyataannya yang meminta masyarakat untuk menggaungkan benci produk asing.

Tujuannya, kata dia, semata-mata demi menyelamatkan produk dalam negeri. Ia juga ingin, barang-barang hasil karya anak bangsa punya konsumen loyal dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

"Gitu saja ramai. Saya ngomong benci produk asing gitu saja ramai. Boleh kan tidak suka produk asing tapi untuk menuju loyalitas konsumen kita pada produk-produk dalam negeri memang ada syarat-syaratnya. Kalau harga kompetitif tentu saja, kalau kualitasnya baik tentu saja," kata Presiden Jokowi, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat 5 Maret 2021.

Baca juga: Canda Jokowi: Kabinet Sekarang, Kabinet Hipmi

Untuk itu, kata Jokowi, pengusaha dalam negeri harus memperbaiki kualitas produk mereka. Sebetulnya, kata dia, banyak komoditas berupa bahan baku, untuk produk turunannya sudah diproduksi di dalam negeri.

Presiden Jokowi mengakui, bahwa bahan baku di dalam negeri untuk membuat suatu produk, sangat banyak. Jika dimanfaatkan, maka akan memberi nilai tambah bagi usaha tersebut.

"Saya juga selalu menyampaikan ke kementerian dan lembaga, kepada BUMN, semua BUMN untuk memperbesar TKDN, komponen dalam negeri ini harus terus. Jangan sampai proyek-proyek pemerintah, proyek BUMN masih memakai barang-barang impor. Kalau itu bisa dikunci itu bisa menaikkan permintaan dalam negeri yang tidak kecil, gede banget," jelas Kepala Negara.

Seperti ia mencontohkan beberapa proyek, masih menggunakan produk luar. Seperti pipa, yang menurut mantan Gubernur DKI itu sudah banyak diproduksi di dalam negeri.

"Pipa kita sudah prdouksi banyak, tapi masih impor untuk apa? Padahal dipakai untuk proyek-proyek pemerintah, BUMN, kalau saya ngomong itu nggak boleh loh, pak, tidak boleh. Itu harus dimulai dan kita harus benar-benar memulai, paling tidak dari pemerintah dan BUMN gede sekali angkanya," sambung Presiden.

Jokowi menegaskan, bahwa Indonesia menganut keterbukaan ekonomi. Bukan menutup dari segala hal. Tetapi potensi dalam negeri harus dimanfaatkan dan menjadi prioritas.

"Tapi saya tegaskan bahwa kita juga bukan bangsa yang menyukai proteksionsime. Tidak, karena sejarah membuktikan bahwa proteksionisme justru merugikan tapi kita jangan jadi korban unfair practices dari perdagangan dunia," katanya.

Ia berharap, pasar dalam negeri yang sangat besar ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Jika dioptimalkan, Kepala Negara yakin produk-produk dalam negeri akan mampu menjadi penguasa.

"Kita harus memanfaatkan secara optmial pasar dalam negeri karena ini besar sekali 270 juta dan daya beli yang sangat besar untuk mendongkrak ekonomi kita," kata dia.