Presiden Jokowi mulai pembangunan kawasan industri hijau Kaltara

·Bacaan 3 menit

Presiden Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) Kawasan Industrial Park Indonesia (KIPI) di Kalimantan Utara.

"Saya sangat menghargai apa yang sudah dimulai di Tanah Kuning, kabupaten Bulungan, provinsi Kalimantan Utara ini. Saya sangat menghargai inisiatif para investor, para pemilik modal, para CEO yang sudah hadir dan membangun industrinya di sini," kata Presiden Jokowi di lokasi KIPI, kabupaten Bulungan Kalimantan Utara, Selasa.

Ikut hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, pemilik PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir, para pejabat serta para investor yang berasal dari China, Uni Emirat Arab serta dalam negeri.

"Ini yang sering saya sampaikan, yang namanya kita akan memulai transformasi ekonomi Indonesia. Dari yang kita sudah bertahun-tahun bertumpu kepada sumber daya alam, ekspor 'raw material', ekspor bahan-bahan mentah sekarang kita akan masuk kepada hilirisasi, industrialisasi bahan-bahan mentah kita," tambah Presiden.

Baca juga: Presiden Jokowi harap kawasan industri hijau Kaltara terbesar di dunia

Menurut Presiden Jokowi, Indonesia saat ini harus sudah mulai ekspor barang setengah jadi atau barang jadi.

"Dan yang di Kalimantan Utara ini adalah hampir semuanya barang jadi sehingga memberikan nilai tambah, memberikan 'added value' yang besar bagi negara kita karena kita menjualnya sudah dalam bentuk barang jadi," ungkap Presiden.

Presiden Jokowi menyebut hal tersebut sebagai lompatan katak.

"Ini sebuah lompatan yang ingin kita lakukan, 'leap frog' yang ingin kita lakukan, dan ini akan kelihatan manfaatnya secara riil 5 sampai 10 tahun yang akan datang akan kelihatan bermanfaat seperti apa, baru kelihatan," tambah Presiden.

Presiden Jokowi juga meminta kepada para menteri, gubernur dan kepala daerah untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia untuk mendukung kawasan industri tersebut.

"Karena ini membutuhkan SDM-SDM yang memiliki kualifikasi yang bak, siapkan mulai dari sekarang," ungkap Presiden.

Menurut Presiden Jokowi, dalam masa konstruksi setidaknya membutuhkan sekitar 100 ribu tenaga kerja.

"Lalu yang dibutuhkan pada saat operasional, hanya di sini saja, belum anak cucu turunan dari produk yang dihasilkan itu sebanyak 60 ribu (tenaga kerja) dan perkiraan saya lebih dari 200 ribu plus anak cucu turunan dari produk-produk yang dihasilkan," jelas Presiden.

Baca juga: Presiden Jokowi tiba di Kaltara

Green Industrial Park adalah kawasan industri yang beroperasi dengan menerapkan teknologi maupun produksi bersih.

Kawasan Industrial Park Indonesia di Kalimantan Utara tersebut disebut sebagai kawasan paling luas di dunia dan dimiliki PT Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) dan PT Kawasan Industri Kalimantan Indonesia (KIKI) dengan target total luas kawasan adalah 30.000 hektare.

Kawasan industri itu akan menggunakan energi baru terbarukan sebagai sumber energi utama, dua di antaranya adalah 'hydropower' dan solar panel. Selain itu, daya listrik juga akan ditopang menggunakan bahan bakar gas.

KIPI menelan investasi sebesar 132 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.848 triliun untuk seluruh tahapan konstruksi dan komersialisasi sampai 8 tahun ke depan. Pendanaan proyek sepenuhnya diberikan oleh swasta tanpa adanya garansi dari pemerintah.

Proyek itu juga ditargetkan selesai konstruksi pada 2024 dan operasi bertahap mulai 2023, 2024 hingga 2029.

Beberapa proyek rencananya akan dibangun dalam kawasan itu, seperti "alumunium smelter", "petrochemical", "electronic alumine", "steel", "new energy battery" 1, "new energy battery" 2, "industrial silicon", "polycrystalline silicon" dan "solar panel".

KIPI dikerjakan melalui kerja sama antara Indonesia, China, dan Uni Emirat Arab.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel