Presiden Kolombia gelar pembicaraan dengan mantan pemimpin FARC

·Bacaan 1 menit

Bogota (AFP) - Presiden Kolombia Ivan Duque mengelar pembicaraan dengan mantan pemimpin FARC pada Jumat, berjanji akan mempercepat integrasi para mantan kombatan menyusul perjanjian damai 2016, menurut penasihat senior.

Komitmen Duque muncul selama pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara presiden garis keras dan para pemimpin bekas gerakan gerilyawan kiri di Bogota.

Duque, yang terkenal kritis terhadap aspek kesepakatan damai yang menurutnya terlalu toleran terhadap FARC, berjanji akan berupaya "mempercepat proses reintegrasi", kata Emilio Archila, penasihat senior pemerintah pasca-konflik yang menghadiri pertemuan tersebut.

Pertemuan di istana presiden tersebut menyusul aksi 10 hari di Bogota oleh mantan gerilyawan yang menuntut pemerintah agar memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan damai 2016, yang berujung pada pelucutan senjata milik 13.000 petempur dan perubahan FARC menjadi partai politik.

Mantan gerilyawan mengatakan mereka membutuhkan perlindungan yang lebih besar sebab nyawa mereka semakin terancam oleh kelompok gerilya lainnya dan organisasi perdagangan narkoba.

Alasan aksi tersebut yakni untuk menarik perhatian atas pembunuhan 237 mantan rekan mereka sejak 2016.

Pastor Alape, pemimpin partai politik yang muncul dari FARC pasca perlucutan senjata, mengatakan bahwa sikap Duque akan membantu melawan "stigmatisasi" yang katanya mendorong kekerasan terhadap 13.000 orang yang dilucuti.

"Terjadi kesepakatan untuk memperkuat sekaligus mempercepat proses reintegrasi" selama 22 bulan sisa masa jabatan Duque, kata Alape usai pertemuan tersebut.

Masa jabatan pemimpin sayap kanan itu akan berakhir pada Agustus 2022.

Kedua pihak sepakat untuk mempelajari langkah ekstra melindungi mantan pemberontak dari pembangkang, yang menolak perjanjian perdamaian serta kelompok ilegal lainnya yang menurut otoritas bertanggung jawab atas serentetan kasus pembunuhan.