Presiden Macron Tidak Mau Minta Maaf Atas Penjajahan Prancis di Aljazair

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan dia tidak akan meminta maaf kepada Aljazair atas penjajahan Prancis. Namun, kata Macron, dia berharap dapat meneruskan upaya rekonsiliasi dengan Presiden Aljazair, Abdelmajid Tebboune.

"Bukan hak saya untuk meminta maaf, bukan soal itu, kata itu dapat memutuskan semua hubungan kita," jelas Macron dalam wawancaranya dengan majalah Le Point yang diterbitkan pada Rabu.

"Hal terburuk adalah memutuskan: 'Kami meminta maaf dan masing-masing menempuh jalan sendiri,'" lanjutnya, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (13/1).

Macron juga mengungkapkan harapannya Presiden Tebboune bisa datang ke Prancis tahun ini, sebagai kunjungan balasan Macron ke Algiers tahun lalu, dan melanjutkan kerjasama persahabatan kedua negara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun sejumlah pihak mengecam keputusan Macron tersebut.

"Satu langkah maju, 10 langkah mundur," tulis kandidat doktoral di Universitas Toulouse Capitol Prancis, Rim-Sarah Alouane di Twitter.

Prancis menduduki Aljazair selama 100 tahun dan terlibat perang sengit pada 1954-1962 di mana Aljazair berjuang untuk kemerdekaannya.

Saat menjadi kandidat presiden pada 2017, Macron menyebut pendudukan Prancis itu sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan". Pada 2021, Macron mengakui untuk pertama kalinya tentara Prancis membunuh tokoh kemerdekaan ternama Aljazair dan kemudian menutupi pembunuhan tersebut.

Macron juga mempertanyakan apakah Aljazair telah berdiri sebagai bangsa sebelum dijajah Prancis, yang mendapat kecaman dari Algiers.

"Momen-momen ini mengajarkan kita. Anda harus bisa mengulurkan tangan lagi dan mengajak, yang Presiden Tebboune dan saya telah lakukan," kata Macron kepada penulis Aljazair, Kamel Daoud dalam wawancara Le Point.

Dia mendukung saran agar Tebboune mengunjungi makam pahlawan anti penjajah Aljazair abad ke-19, Abdelkader dan rombongannya, yang dimakamkan di Amboise, Prancis tengah.

"Itu masuk akal bagi sejarah rakyat Aljazair. Bagi rakyat Prancis, itu akan menjaid kesempatan untuk memahami kenyataan yang sering disembunyikan," kata Macron. [pan]