Presiden minta kecermatan hadapi ancaman krisis pangan jadi peluang

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan agar jajaran anggota Kabinet Indonesia Maju bisa bersikap cermat dalam menghadapi ancaman krisis pangan, antara lain diakibatkan kelanjutan invasi militer Rusia ke Ukraina, menjadikan sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

"Tapi di sisi krisis pangan tadi yang saya sampaikan, sebetulnya ada sisi peluangnya, untuk urusan pangan, yang bisa kita kejar dalam waktu pendek," kata Presiden Jokowi saat memberi arahan dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin.

Menurut Presiden, ada beberapa komoditas pangan yang bisa ditanam dan dipanen dalam waktu singkat, seperti jagung dan kedelai yang berkisar tiga bulan sampai dengan 100 hari, serta padi sekira empat bulan.

Baca juga: Presiden ingatkan sudah 22 negara stop ekspor pangan

Presiden juga meyakini bahwa lahan di Indonesia masih teramat luas untuk memenuhi upaya memanfaatkan peluang tersebut, termasuk lahan-lahan yang sudah bersertifikat hak guna usaha (HGU).

"Saya sampaikan misalnya sawit, yang masih pendek itu bisa ditanami jagung, ada yang sudah gede ditanami porang," katanya.

Selain keberadaan lahan, Presiden juga menegaskan Indonesia juga memiliki ketersediaan sumber daya manusia untuk menggarap peluang dari ancaman krisis pangan tersebut, bahkan bila menilik ke laut, potensinya juga sama besarnya.

"Bayangkan kalau kita bisa memproduksi pangan dalam jangka yang pendek, kita terapkan semuanya, bukan hanya berdikari di bidang pangan, bukan hanya mandiri di bidang pangan, tetapi sekali lagi kita memiliki potensi untuk ekspor," kata Presiden.

Baca juga: Presiden Jokowi: Indonesia masih bisa kendalikan inflasi

Presiden menegaskan bahwa komoditas pangan sangat mudah memasarkan, ia bahkan mengungkapkan ada negara yang sudah meminta pasokan ekspor beras sebanyak 100 ribu ton per bulan.

"Permintaan itu sudah masuk banyak sekali. Beras ada yang minta 100 ribu ton per bulan, ada yang minta 2,5 juta ton tahun ini," katanya.

Sidang paripurna tersebut dihadiri seluruh jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan pimpinan lembaga, termasuk Menteri Perdagangan baru Zulkifli Hasan yang ditugasi Presiden Jokowi untuk segera menuntaskan persoalan minyak goreng.

Baca juga: Presiden ajak Hipmi masuk ke sektor pangan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel