Presiden Persiba Sarankan Liga 2 Dikelola Operator Mandiri

Jakarta - PT Liga Indonesia baru selama ini mengelola kompetisi Liga 1 dan Liga 2 di tanah air. Namun belakangan muncul wacana agar muncul operator baru untuk mengelola khusus Liga 2.

Tim Liga 2 yang berada di bawah PT Liga Indonesia Baru tidak mendapatkan jatah saham. Saham mayoritas dikuasai oleh klub Liga 1, dengan satu persen dimiliki PSSI selaku otoritas tertinggi sepak bola di Tanah Air.

Oleh sebab itu, sebanyak 24 klub Liga 2 musim ini melontarkan wacana pembentukan perusahaan baru sebagai penyelenggara kompetisi kasta kedua. Presiden Persiba Balikpapan, Gede Widiade, mengemukakan pentingnya pembentukan perusahaan baru untuk menaungi kompetisi Liga 2.

Bahkan sejatinya tidak melulu soal pembagian saham, tapi juga mengurangi beban pekerjaan LIB. Selama ini, LIB dianggap sudah kelebihan muatan sehingga kerap tidak fokus.

"Jadi ini membantu PT LIB untuk mengurangi beban secara bertahap, agar subsidi yang selama ini diberikan kepada klub Liga 2 bisa dialihkan untuk pembinaan di asprov, askot, atau askab," ujar Gede, kepada Bola.net, Rabu (3/6/2020).

Lebih Mandiri

Sebaliknya untuk klub Liga 2, dengan mendirikan perusahaan baru yang tentu juga melibatkan PSSI di dalamnya, maka bisa belajar mandiri. Tidak selalu menggantungkan subsidi dari LIB.

Lebih dari itu, dengan didirikannya perusahaan operator kompetisi untuk Liga 2 diharapkan dengan sendiri kualitasnya menjadi makin bagus. Performa klub pun juga bakal terangkat.

"Tidak ada persaingan pengelolaan Liga 1 dan Liga 2. Kalau diumpamakan Liga 1 adalah Mercedez, maka Liga 2 adalah Avanza. Maka yang akan kita tingkatkan adalah kualitas performa Avanza itu secara bertahan," kata mantan Direktur Utama Persija Jakarta ini.

Namun, Gede Widiade juga menegaskan perusahaan operator kompetisi Liga 2 ini masih wacana. Bahkan, berupa janin pun belum. Jadi, sifatnya masih sebatas tukar pendapat antarsesama pengurus untuk mencari rumusan pembiayaan yang ideal dan maksimal.

"Prinsipnya ini untuk membantu pendapatan klub Liga 2 sebagai pengganti subsidi, karena klub bukan pemegang saham di PT LIB," ujar Gede.

 

Profesional

Walau masih sebatas mimpi, beberapa klub Liga 2 menginginkan orang-orang yang mengelola calon perusahaan operator kompetisi itu datang dari kalangan profesional. Hal ini untuk menghindari bias dengan perusahaan pengelola Liga 1.

"Idealnya ya dari kalangan profesional supaya bisa jadi pembanding dengan Liga 1," tutur Gede.

"Kalau sama dengan Liga 1, ya tidak ada benefit yang kita harapkan," imbuhnya.

Sumber: Bola.net

Disadur dari: Bola.net (Fitri Apriani/Serafin Unus Pasi, published 3/6/2020)