Presiden Rouhani: AS minta pembayaran vaksin melalui bank miliknya

·Bacaan 2 menit

Tehran (AFP) - Presiden Hassan Rouhani pada Sabtu mengatakan bahwa Washington meminta agar transaksi Iran untuk vaksin COVID-19 dibayarkan melalui bank-bank AS, dan mengaku khawatir bahwa uang tersebut akan disita.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjatuhkan gelombang demi gelombang sanksi terhadap republik Islam tersebut sejak 2018, ketika secara sepihak Trump hengkang dari kesepakatan nuklir Iran.

Iran memiliki aset yang dibekukan di sejumlah negara, termasuk di AS.

"Kami ingin mentransfer uang dari negara, di mana uang kami" untuk membeli vaksin dan "negara ini telah menerimanya", kata Rouhani saat pertemuan dengan Satgas COVID-19 Iran, tanpa menyebutkan negara yang dimaksud.

Secara teori, obat-obatan dikecualikan dari sanksi. Namun, kenyataannya bank internasional cenderung menolak transaksi yang melibatkan Iran guna menghindari potensi litigasi.

Badan Pengawas Aset Luar Negeri Departemen Keuangan AS awalnya mengindikasikan bahwa "tidak ada masalah" dengan transfer dana seperti itu, jelasnya.

Namun, "kemudian dikatakan bahwa uang tersebut harus terlebih dahulu melalui bank AS sebelum ditransfer" untuk pembelian vaksin, ucap Rouhani.

Pada April presiden Iran mengatakan negara tersebut berhasil memenangkan "kemenangan" legal atas 1,6 miliar dolar AS dari asetnya yang telah lama dibekukan atas permintaan AS di Luksemburg.

"Siapa yang dapat mempercayai orang-orang seperti anda? Anda telah merampok uang kami di mana pun anda menemukannya," kata Rouhani pada Sabtu, menyikapi pemerintahan AS.

Republik Islam tersebut memerangi wabah virus COVID-19 yang paling mematikan di Timur Tengah sejak Februari, dengan hampir 1.195.000 kasus dan 54.500 lebih kematian, menurut data resmi.

Menteri Kesehatan Saeed Namaki awal Desember ini mengatakan bahwa Iran telah "sebelumnya telah membeli" sekitar 16,8 juta dosis vaksin "melalui program COVAX", tanpa menyebutkan vaksin yang dimaksud.

COVAX merupakan inisiatif internasional yang bertujuan memastikan bahwa distribusi vaksin COVID-19 untuk semua negara merata.

Pembelian vaksin "bisa lebih mahal dan ditunda, tetapi itu pasti akan terjadi", kata Rouhani, Sabtu.

Iran juga telah meminta para relawan agar mulai melakukan uji klinis vaksinnya sendiri, yang mulai dikembangkan pada musim semi, demikian Kementerian Kesehatan.