Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi yang Dijuluki Si Penjagal

·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden terpilih Iran, Ebrahim Raisi (60) dituduh sebagai seorang pembunuh yang menyiksa, yang akan menyebarkan teror dan pertumpahan darah di seluruh dunia, oleh mereka yang mengklaim menderita di tangannya di Iran.

Raisi akan mulai menjabat bulan depan, dengan tampuk kekuasaan bakal diserahkan pendahulunya, Hassan Rouhani. Presiden merupakan orang nomor dua paling berkuasa di Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Raisi mendapat julukan "Si Penjagal" setelah memerintahkan penyiksaan dan eksekusi massal tahanan politik pada 1980-an silam. Dia pernah menjabat dalam berbagai jabatan pada sistem yudisial Iran, seperti Ketua Hakim Iran, sejak 7 Maret 2019, Jaksa Agung (2014 sampai 2016), dan Wakil Ketua Hakim (2004 sampai 2014).

Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, menuduhnya sebagai "pembunuh massal". Dan sumber pemerintah Israel mengatakan serangan akan 'direncanakan' untuk melenyapkan program nuklir Iran.

Raisi, kepala peradilan garis keras Iran, terpilih pada Sabtu 19 Juni 2021, dengan 62 persen suara di tengah rendahnya jumlah pemilih.

Dia mendapat sanksi dari Amerika Serikat, sebagian atas keterlibatannya dalam eksekusi massal ribuan tahanan politik pada tahun 1988, pada akhir perang Iran-Irak.

Terpilihnya Raisi telah membuat marah PM baru Israel, Naftali Bennett. Dia membuka pertemuan Kabinet pertamanya pada hari Minggu dengan mengecam Raisi.

Bennett mendesak kekuatan dunia untuk sadar akan bahayanya kembali ke perjanjian nuklir dengan Teheran. Bennett mengatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah memilih penjagal Teheran untuk menjadi presiden berikut negaranya.

Dia mencapnya sebagai seorang pria yang dikenal di antara orang Iran dan di seluruh dunia, karena memimpin komisi kematian yang mengeksekusi ribuan warga Iran yang tidak bersalah selama bertahun-tahun.

Bennett mengatakan pemilihan Raisi adalah "kesempatan terakhir bagi kekuatan dunia untuk bangun sebelum kembali ke perjanjian nuklir, dan untuk memahami dengan siapa mereka berbisnis".

“Orang-orang ini adalah pembunuh, pembunuh massal. Rezim penjagal brutal tidak boleh diizinkan memiliki senjata pemusnah massal yang memungkinkannya untuk tidak hanya membunuh ribuan, tetapi jutaan,” kata Bennett seperti dilansir dari The Sun, Senin 21 Juni 2021.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Lior Haiat, memperingatkan bahwa Raisi adalah "seorang ekstremis yang bertanggung jawab atas kematian ribuan orang Iran".

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel