Presipitasi Adalah Proses Jatuhnya Hujan, Pahami Definisi, Proses, dan Jenisnya

Presipitasi Adalah Proses Jatuhnya Hujan, Pahami Definisi, Proses, dan Jenisnya
Presipitasi Adalah Proses Jatuhnya Hujan, Pahami Definisi, Proses, dan Jenisnya

RumahCom – Presipitasi merupakan proses terjadinya hujan yang terakhir. Dengan kata lain, proses presipitasi adalah proses mencairnya awan akibat pengaruh suhu udara yang tinggi. Pada proses inilah hujan terjadi, butiran-butiran air jatuh dan membasahi permukaan bumi.

Proses terjadinya hujan melalui beberapa tahap, termasuk presipitasi. Karenanya, dalam artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai proses jatuhnya hujan, definisi,dan penjelasannya, sebagai berikut:

  • Presipitasi adalah Proses Jatuhnya Hujan

  • Proses Terjadinya Presipitasi

  • Jenis-jenis Presipitasi

[ArticleCallout]{ “title”: “Tips Beli Rumah dari Rumah Lewat Rumah.com & REI Property Expo”, “excerpt”: “Simak tips beli rumah secara online melalui Rumah.com dan REI Property Expo, di sini!”, “link”: “https://www.rumah.com/panduan-properti/pameran-properti-virtual-36439”, “image”: “https://cdn-cms.pgimgs.com/static/2021/09/Tips-Beli-Rumah-dari-Rumah-Lewat-Rumah.com-REI-Property-Expo-e1632111753852.jpg” }[/ArticleCallout]

Presipitasi Adalah Proses Jatuhnya Hujan

Presipitasi adalah proses mencairnya awan akibat pengaruh suhu udara yang tinggi. Presipitasi sendiri merupakan proses akhir dari serangkaian tahapan yang menyebabkan jatuhnya hujan.

Awalnya, awan-awan terbentuk kemudian tertiup oleh angin dan mengalami perpindahan dari satu tempat ketempat lainnya. Proses ini disebut adveksi. Adveksi adalah proses perpindahan awan dari satu titik ke titik lain dalam satu garis horizontal akibat arus angin atau perbedaan tekanan udara.

Adveksi memungkinkan awan akan menyebar dan berpindah dari atmosfer lautan menuju atmosfer daratan.Awan-awan yang terbawa angin ini akan semakin besar ukurannya karena terus menyatu dengan awan lainnya.

Butir-butir es yang ada pada awan akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi hingga akhirnya jatuh ke permukaan bumi. Ketika jatuh butiran-butiran es ini akan melalui lapisan udara yang lebih hangat di dalamnya sehingga merubah butiran es tersebut menjadi butiran air.

Hangatnya lapisan udara membuat butiran air tersebut sebagian menguap kembali keatas dan sebagian lainnya terus turun ke permukaan bumi. Butiran air yang turun ke bumi inilah disebut sebagai hujan.

Apabila suhu udara di sekitar awan terlalu rendah hingga berkisar minus 0 derajat Celcius, presipitasi memungkinkan terjadinya hujan salju. Awan yang mengandung banyak air akan turun ke litosfer dalam bentuk butiran salju tipis seperti yang dapat kita temui di daerah beriklim sub tropis.

Presipitasi perlu diukur untuk mendapatkan data hujan yang berguna bagi perencanaan perencanaan pembangunan bendungan, dam, sehingga bisa juga dimanfaatkan untuk menurunkan potensi banjir di sebuah kawasan. Cari rumah di kawasan yang bebas banjir? Cek pilihan rumahnya di kawasan Serpong dengan harga di bawah Rp1 M di sini!

Proses Terjadinya Presipitasi

<em>Pada proses presipitasi inilah hujan terjadi. (Foto: Freepik)</em>
Pada proses presipitasi inilah hujan terjadi. (Foto: Freepik)

Merangkum buku Pengendalian Pencemaran Lingkungan, presipitasi merupakan bagian dari siklus air, yaitu sirkulasi air dari bumi ke atmosfer dan kembali lagi ke bumi yang berlangsung secara terus menerus.

Pada mulanya, awan mengalami adveksi, yaitu proses perpindahan awan dari satu titik ke titik lain dalam satu horizontal akibat arus angin atau perbedaan tekanan udara. Awan yang mengalami adveksi selanjutnya akan mengalami proses presipitasi.

Terjadinya proses presipitasi dimulai saat awan mencair akibat pengaruh suhu udara yang tinggi. Pada proses presipitasi, hujan akan terjadi. Butiran-butiran air jatuh dan membasahi permukaan bumi.

Apabila suhu udara di sekitar awan terlalu rendah hingga mencapai nol derajat Celcius, proses presipitasi berpotensi menghasilkan salju. Awan yang mengandung banyak air akan turun ke litosfer dalam bentuk butiran salju tipis, seperti pada daerah iklim sub tropis.

Berdasarkan buku Lingkungan Abiotik, proses presipitasi dapat dijelaskan dengan berbagai teori, dua di antaranya yang dapat menjelaskan dengan baik adalah proses koalisi-koalesensi (collision-coalescence process) untuk daerah latitudinal rendah (sekitar khatulistiwa) dan proses Bergeron (Bergeron process atau disebut juga proses kristal es) untuk daerah latitudinal tinggi.

Presipitasi dalam Proses Koalisi-Koalesensi

Merujuk pada buku pengantar meteorologi, pada proses kolisi-koalesensi, tahap pertama adalah pembentukan titik-titik air melalui inti kondensasi. Ada beberapa titik air yang lebih besar dari yang lain karena tabrakan antara beberapa titik-titik air atau inti kondensasi yang dimiliki lebih kuat.

Titik-titik air yang besar ini bertabrakan (kolisi) dan bergabung dengan titik-titik air yang lebih kecil, sehingga membentuk tetes hujan. Pembentukan tetes hujan dipengaruhi oleh muatan listrik pada awan, titik-titik air, arus naik pada awan, ketebalan awan, dan jangkauan ukuran titik-titik air.

Presipitasi dalam Proses Bergeron

Pada proses Bergeron, tahap pertama adalah pembentukan titik-titik air di dasar awan melalui proses koalisi-koalesensi. Titik-titik air sebagian ada yang terdorong arus naik ek atas awan, kemudian titik-titik air ini mendingin.

Titik-titik air ada yang sebagian berubah menjadi kristal es dengan bantuan partikel-partikel yang disebut inti es. Tekanan uap jenuh kristal es lebih kecil dari tekanan uap jenuh titik-titik air. Akibatnya, titik-titik air menguap dan terdeposisi pada kristal-kristal es. Kristal es akan membesar, bertabrakan, dan berkumpul sehingga membentuk salju.

Presipitasi dari awan nimbostratus atau stratus biasanya terbentuk melalui proses Bergeron. Presipitasi yang turun dari awan cumulonimbus biasanya terbentuk dari campuran sebagian proses Bergeron dan koalisi-koalesensi.

Jenis-Jenis Presipitasi

Presipitasi terdiri dari beberapa jenis. Mulai dari hujan, salju, sampai virga. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Hujan

Hujan adalah cairan dalam bentuk tetesan yang telah mengalami kondensasi dari uap air atmosfer, kemudian menjadi cukup berat untuk jatuh karena gravitasi. Hujan adalah komponen utama dari siklus air dan bertanggung jawab untuk menyimpan sebagian besar air tawar di Bumi.

2. Hujan Es

<em>Hujan es terbentuk oleh lapisan air yang menempel dan membeku di awan besar. (Foto: Antara)</em>
Hujan es terbentuk oleh lapisan air yang menempel dan membeku di awan besar. (Foto: Antara)

Hujan es terbentuk ketika tetesan air membeku bersama di daerah atas awan badai yang dingin. Potongan es ini disebut batu es. Hujan jatuh sebagai air dan membeku saat mendekati tanah. Hujan es terbentuk oleh lapisan air yang menempel dan membeku di awan besar. Hujan es adalah fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrem.

Hujan es terjadi karena adanya awan Cumulonimbus (CB). Pada awan ini terdapat tiga macam partikel (yaitu) butir air, butir air super dingin, dan partikel es. Sehingga, hujan lebat yang masih berupa partikel padat baik es dapat terjadi tergantung dari pembentukan dan pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) tersebut.

Biasanya awan berbentuk berlapis-lapis seperti bunga kol. Di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam.

Dirangkum dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian hujan es atau hail disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi atau pancaroba musim baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya.

[PropertyTip]Fenomena hujan es semakin marak dan terjadi di beberapa tempat. Pastikan atap rumah kokoh dan dibuat menggunakan material yang tepat.[/PropertyTip]

3. Salju

Salju adalah presipitasi dalam bentuk kristal es. Salju berasal dari awan yang mencapai suhu di bawah titik beku (0 derajat Celcius, atau 32 derajat Fahrenheit). Salju terbentuk ketika uap air di atmosfer mengembun dan menjadi es tanpa melalui tahap cair.

Karena terbuat dari air yang membeku, salju juga dapat dikatakan sebagai mineral. Hal tersebut karena salju merupakan es yang terjadi secara alami dan bersifat homogen. Es ini memiliki komposisi kimia yaitu H2O dengan ikatan atom hidrogen dan oksigen secara spesifik.

Secara garis besar, proses terjadinya salju sama halnya dengan hujan. Hal yang membedakan hanyalah pada proses pembentukan salju, air mengalami tahap yang disebut kristalisasi. Tetapi, kristalisasi tentunya tidak serta merta terjadi. Ada beberapa faktor atau syarat untuk terjadi kristalisasi sehingga menghasilkan butir salju.

Pertama adalah suhu di bawah awan harus sangat dingin. Sangat dingin maksudnya adalah berada di titik beku atau biasanya 0 derajat Celcius. Tetapi, suhu rendah juga tidak menjamin akan terjadi salju. Ada partikel-partikel lain di udara yang mempengaruhi.

Saat air yang turun dari awan tadi bersentuhan dengan partikel-partikel di udara, maka air tersebut akan tercemar. Jika di udara tersebut terdapat partikel yang berfungsi untuk mempercepat pembentukan es, maka terjadilah kristal es.

Partikel tersebut bernama nukleator. Selain untuk mempercepat pembekuan, partikel ini juga berfungsi merekatkan antar uap air. Meskipun selalu dingin, tetapi suhu salju juga dapat berbeda. Suhu permukaan salju akan bergantung pada suhu udara di atasnya.

Artinya, semakin rendah suhu udara di atas, maka akan semakin dingin lapisan salju yang berada di dekat permukaannya. Salju yang semakin tinggi terutama dalam 30-45 cm (12-18 inci).

Sedangkan salju yang berada di dekat tanah atau lapisan yang lebih dalam akan lebih hangat. Hal tersebut terjadi karena suhu tanah lebih hangat dan tidak memiliki udara. Jadi, proses terjadinya salju dapat lebih cepat jika berada di daerah tinggi karena suhu udara yang rendah atau lebih dingin.

4. Hujan Beku

Hujan beku terjadi ketika lapisan udara beku sangat tipis sehingga air hujan tidak memiliki cukup waktu untuk membeku sebelum mencapai tanah. Hujan beku terjadi saat salju yang turun bertemu dengan lapisan udara hangat yang mencairkan salju sepenuhnya dan menjadi hujan.

5. Sleet

<em>Sleet sering bercampur dengan hujan atau salju. (Foto: Pixabay)</em>
Sleet sering bercampur dengan hujan atau salju. (Foto: Pixabay)

Sleet adalah bentuk presipitasi yang terdiri dari butiran es, sering bercampur dengan hujan atau salju. Sleet terjadi ketika kepingan salju hanya meleleh sebagian saat jatuh melalui lapisan udara hangat.

6. Virga

<em>Vigra umum terjadi di padang pasir dan di daerah beriklim panas. (Foto: Pinterest – Earthsky.org)</em>
Vigra umum terjadi di padang pasir dan di daerah beriklim panas. (Foto: Pinterest – Earthsky.org)

Virga adalah presipitasi yang jatuh ke Bumi namun menguap sebelum mencapai daratan. Hal ini sangat umum terjadi di padang pasir dan di daerah beriklim panas. Presipitasi terbentuk melalui tabrakan antara butir air atau kristal es dengan awan.

Dalam meteorologi, Virga adalah jalur presipitasi curah hujan vertikal atau miring yang menyerang di bawah permukaan awan, yang evaporasi sebelum mencapai permukaan Bumi sebagai pengendapan. Hal ini sangat umum terjadi di padang pasir dan di daerah beriklim sedang.

Tonton video berikut ini untuk mengetahui tips investasi properti untuk pemula!

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

[AskGuru][/AskGuru]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel