Pria di Virginia Alami Ruam Akut Setelah Disuntik Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Richmond - Seorang pria di Virginia, Amerika Serikat berusia 74 tahun mengalami ruam parah yang menyebar ke seluruh tubuhnya setelah mendapatkan suntikkan vaksin COVID-19 produksi Johnson & Johnson pada 6 Maret, menurut laporan WRIC Talya Cunningham.

Dikutip dari laman Bussines Insider, Kamis (1/4/2021) Richard Terrell dari Goochland, Virginia, mengatakan bahwa dia mulai mengalami gejala tersebut sekitar empat hari setelah mendapatkan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson.

"Saya mulai merasakan sedikit ketidaknyamanan di ketiak saya dan kemudian beberapa hari kemudian saya mulai mengalami ruam gatal, dan kemudian setelah itu mulai membengkak dan kulit saya menjadi merah," kata Terrell kepada WRIC.

Ruam menyebar ke seluruh tubuhnya, menyebabkan kaki dan lengannya membengkak dan kulitnya mengelupas, katanya.

"Itu perih, terbakar, dan gatal," kata Terrell.

"Setiap kali saya menekuk lengan atau kaki saya, seperti bagian dalam lutut, itu sangat menyakitkan di mana kulit bengkak dan bergesekan dengan dirinya sendiri."

Menurut WRIC, kondisi ini langsung mendorong Terrell untuk mengunjungi dokter kulit.

Terrell menghabiskan lima hari di VCU Medical Center, di mana ia dirawat dan dokter melakukan biopsi pada ruam untuk melihat apa penyebabnya, usai disuntik vaksin COVID-19 Johnson & Johnson.

Vaksin J&J Masih Aman

Seorang karyawan di distributor McKesson Corporation memindai sekotak vaksin Johnson & Johnson saat mengisi pesanan di Shepherdsville, Kentucky, Senin (1/3/2021). Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson menjadi vaksin corona ketiga yang sah digunakan di AS. (AP Photo/Timothy D. Easley, Pool)
Seorang karyawan di distributor McKesson Corporation memindai sekotak vaksin Johnson & Johnson saat mengisi pesanan di Shepherdsville, Kentucky, Senin (1/3/2021). Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson menjadi vaksin corona ketiga yang sah digunakan di AS. (AP Photo/Timothy D. Easley, Pool)

Salah satu dokter dermatologi Terrell di rumah sakit tersebut, Dr. Fnu Nutan, mengatakan bahwa reaksi itu "sangat jarang".

Nutan mengatakan dia yakin ada sesuatu tentang susunan genetik Terrell yang membuatnya bereaksi seperti ini terhadap vaksin.

Nutan juga menyebut bahwa pengalaman Terrell seharusnya tidak menghentikan orang lain untuk mendapatkan vaksin Johnson & Johnson, yang menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan AS aman dan efektif.

Belum ada laporan serupa tentang reaksi parah terhadap vaksin Johnson & Johnson, yang diizinkan untuk digunakan di AS pada akhir Februari 2021.

Saksikan Video Berikut Ini: