Pria Disabilitas Bersama Istri Hamil Tewas Akibat Serangan Rudal Israel

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Gaza - Seorang warga dengan disabilitas di Palestina tewas akibat serangan rudal yang jatuh ke rumahnya.

Tak hanya dirinya, ia bersama istri yang sedang hamil dan putrinya juga menjadi korban dalam serangan tersebut, demikian dikutip dari laman France24, Kamis (20/5/2021).

Eyad Saleha (33) sedang menunggu makan siang kala itu. Tiba-tiba, sebuah rudal jatuh ke rumahnya di Gaza.

Ruang tamu mereka hancur berkeping-keping, dan bagian-bagian sepeda berwarna merah milik anak perempuannya juga hancur di antara reruntuhan bangunan tersebut.

Serangan udara Israel telah menewaskan 227 orang termasuk 64 anak-anak di daerah yang terkepung itu sejak 10 Mei 2021, menurut kementerian kesehatan di Gaza.

Roket yang ditembakkan oleh kelompok bersenjata Palestina telah menewaskan 12 orang termasuk satu anak di Israel pada periode yang sama, kata polisi setempat.

Tentara Israel mengatakan, pihaknya berusaha untuk menghindari "kerusakan tambahan" dari serangan yang ditujukan pada sasaran militer.

Ia juga berulang kali mengatakan bahwa roket yang salah sasaran dari kelompok Palestina yang telah mendarat di dalam Jalur Gaza yang mestinya bertanggung jawab atas kematian warga sipil di daerah tersebut.

Pernyataan Tentara Israel

Unit artileri Israel menembakkan peluru ke arah sasaran di Jalur Gaza di perbatasan Gaza-Israel, Rabu (19/5/2021). Jumlah penduduk Jalur Gaza yang tewas akibat serangan Israel sampai saat ini mencapai 228 orang. (AP Photo/Tsafrir Abayov)
Unit artileri Israel menembakkan peluru ke arah sasaran di Jalur Gaza di perbatasan Gaza-Israel, Rabu (19/5/2021). Jumlah penduduk Jalur Gaza yang tewas akibat serangan Israel sampai saat ini mencapai 228 orang. (AP Photo/Tsafrir Abayov)

Tentara Israel tidak memberikan komentar khusus tentang serangan Rabu (19/5) kemarin di Deir el-Balah.

Serangan ini membunuh Saleha, istri pria disabilitas itu dan putri mereka, Nagham.

Putus asa saat berada di kamar mayat, Omar Saleha (31), mengatakan saudaranya Eyad tidak dapat berjalan selama 14 tahun, dan bukan seorang pejuang.

"Apa yang dilakukan kakakku? Dia hanya duduk di kursi roda," katanya.

"Apa yang pernah dilakukan putrinya? Apa yang dilakukan istrinya?" tanya sang adik, yang sedang bersama tetangga.

"Mereka baru saja bersiap-siap untuk makan siang."

"Berapa banyak lagi yang akan jadi korban?"

Dia mengatakan, Saleha menganggur dan berbagi flat dengan ibu dan tiga saudara lelakinya.

Seperti banyak orang lain di daerah kantong pesisir yang miskin, mereka mengandalkan bantuan dari badan PBB untuk pengungsi Palestina.

Kemarahan Pihak Palestina

Klinik Dokter Lintas Batas (Médecins sans Frontières) di Gaza yang hancur akibat serangan Israel. Dok: Dokter Lintas Batas
Klinik Dokter Lintas Batas (Médecins sans Frontières) di Gaza yang hancur akibat serangan Israel. Dok: Dokter Lintas Batas

Wakil Menteri Kesehatan Yousef Abu al-Rish mengatakan dia sangat marah atas insiden penyerangan ini.

"Membunuh orang tak berdosa di rumah, bahkan janin di perut ibunya adalah kejahatan," katanya.

"Berapa banyak lagi yang harus mati agar dunia dapat menumbuhkan hati nurani?"

Tidak jelas apakah bangunan tiga lantai itu sengaja dihancurkan atau tidak.

Israel mengklaim pihaknya menargetkan komandan kelompok Islam Hamas yang memerintah daerah kantong tersebut, serta jaringan terowongannya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel