Pria Ini Beberkan Kecurigaan Kerusuhan Capitol yang Berhasil Dibobol

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Tinggal di Washington D.C., Jamie Davis Smith merasa beruntung dapat menghabiskan banyak waktu di Capitol bersama anak-anaknya, sejak mereka masih sangat kecil. Salah satu alasannya adalah salah seorang putrinya punya kebutuhan medis yang kompleks.

Ia mulai mengunjungi Capitol bersama Jamie ketika berusia 4 tahun untuk mengadvokasi akses ke perawatan kesehatan yang ia perlukan selama sisa hidupnya. Setiap kali mengunjungi Capitol, Jamie kagum dengan kubahnya yang besar dan indah menjulang ke langit, melambangkan kekuatan dan ketahanan demokrasi Amerika.

Jamie juga dibuat terpesona dengan operasi keamanan yang menurutnya paling efisien di dunia. Dalam setiap kunjungannya, anak perempuan Jamie yang duduk di kursi roda harus melalui pemeriksaan keamanan yang intensif, bahkan sering diminta turun dari kursi roda untuk diperiksa.

Anak laki-laki Jamie yang masih balita pernah terdorong ketika seorang petugas polisi Capitol mengeluarkan cangkir makanan ringannya dari tasnya untuk diperiksa lebih dekat, karena bentuknya yang aneh saat terlihat dari mesin sinar X. Saat menghadiri konferensi pers di area terlarang di Capitol sebagai bagian dari pekerjaan advokasi Jamie, ia harus memberikan namanya terlebih dahulu sebelumnya, agar diizinkan hadir.

Ia diharuskan melalui keamanan dan memberikan kartu identitas untuk masuk. Jamie juga diharuskan memakai lencana yang mencantumkan tanggal dan ruangan tempat yang dituju saat berada di dalam Capitol.

Keamanan ketat dan paling efisien di dunia ketika berada di Capitol

Capitol. Sumber foto: unsplash.com/Cameron Smith.
Capitol. Sumber foto: unsplash.com/Cameron Smith.

Jika ia harus meninggalkan ruangan tersebut karena harus menggunakan kamar mandi atau mencoba menenangkan anaknya yang mulai rewel, ia akan dihentikan dalam beberapa detik untuk ditanyai akan pergi kemana. Banyak teman Jamie yang memiliki cerita yang serupa.

Putri temannya berusia 8 tahun dan tunarungu dan mendapati implan koklea yang berarti tidak bisa melewati detektor logam. Ketika mengunjungi Capitol, ia harus menunggu lebih dari 30 menit untuk diizinkan masuk, sampai seorang petugas perempuan dihadirkan untuk memeriksa sang anak secara menyeluruh.

Temannya yang lain dikawal keluar dari Capitol dengan bayi laki-lakinya di kereta dorong karena meninggalkan catatan post it di pintu seorang senator saat kongres sedang istirahat. Seorang anggota kongres tersinggung karena catatan tersebut menunjukkan bahwa senat tidak berbuat cukup untuk mengekang kekerasan bersenjata dan meminta kepolisian Capitol mengeluarkan mereka dari gedung.

Keamanan saangat ketat di sekitar pintu menuju kamar senat, sehingga ketika seorang teman yang memiliki izin untuk berada di bagian gedung itu mengangkat ponselnya untuk berfoto, ia akan segera didekati oleh polisi Capitol yang memperingatinya bahwa ia harus segera pergi jika tidak menyimpan ponselnya. Siapapun yang masuk ke kamar senat harus menyerahkan ponsel mereka dan melewati titik keamanan kedua sebelum diizinkan masuk.

Begitu masuk, keamanan menjadi lebih ketat. Jamie juga sedang berada di Capitol ketika pengunjuk rasa yang cacat diseret dari kursi roda mereka dan dengan cepat ditangkap karena memprotes.

Kerusuhan tanggal 6 Januari lalu adalah hal kontras dari apa yang dialami Jamie

Capitol. Sumber foto: unsplash.com/Syed F Hashemi.
Capitol. Sumber foto: unsplash.com/Syed F Hashemi.

Perlakuan yang diterima oleh Jamie dan teman-temannya selama ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di tanggal 6 Januari lalu. Alih-alih melihat detektor logam dan penegakan peraturan yang ketat yang telah menjaga Capitol lebih dari 200 tahun ini, polisi Capitol justru membuka barikade untuk para perusuh dan melambai kepada mereka untuk masuk, meskipun mereka terang-terangan membawa simbol kebencian.

Pemberontakan ini jelas telah direncanakan dengan baik sebelumnya. Saat pemberontakan terjadi, kepolisian Capitol tampak jarang dan terkejut.

Di kota yang terkenal dengan protes massal, kota ini seharusnya tahu bagaimana mempersiapkan diri, kurangnya keamanan sama sekali tidak pernah terpikirkan. Ini juga bukan protes biasa.

Para pemberontak muncul dengan bom dan senjata. Jamie telah tinggal di D.C. selama lebih dari 20 tahun dan tidak pernah takut akan protes, namun menurutnya, yang ini berbeda, karena sebagian besar perusuh diperlakukan seperti tamu terhormat dan berfoto selfie di mimbar senat.

Sulit menggabungkan gambar-gambar tersebut dengan pengalaman yang dialami Jamie saat memasuki Capitol dengan pengamanan yang ketat. Jamie berharap bahwa Capitol dan bangsanya tetap menjadi tempat yang aman.

#Elevate Women