Pria Paruh Baya Cabuli Remaja Putri di Pandeglang hingga Hamil

Merdeka.com - Merdeka.com - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pandeglang menangkap pria paruh baya berinisial M (51) karena melakukan pencabulan terhadap remaja putri berumur 16 tahun. Korban dua kali dicabuli pelaku.

"Pelaku diamankan pada Rabu (14/9) di rumahnya di Kecamatan Banjar, Pandeglang tanpa perlawanan," kata Kasatreskrim Polres Pandeglang AKP Fajar Mauludi dalam keterangannya, Minggu (18/9).

Fajar menambahkan, peristiwa pencabulan terjadi pada Kamis (30/6). Terungkap saat ibu korban yang curiga kepada anaknya yang tak kunjungan haid.

"Awalnya, ibu korban curiga terhadap korban yang tidak kunjung haid. Kemudian, ibu korban membawa korban ke tukang pijat dan meminta tolong untuk melakukan cek terhadap korban," jelasnya.

"Menurut keterangan tukang pijat tersebut korban sedang hamil. Kemudian, ibu korban membawa korban ke klinik dan hasil dari pemeriksaan korban sudah hamil sekitar enam minggu," sambungnya.

Mengetahui hal itu, ibu korban langsung melaporkan kejadian itu ke Polres Pandeglang. Kemudian dari hasil pemeriksaan atas laporan itu, terduga pelaku diketahui atas nama inisial M.

"Tersangka diketahui pada Kamis (30/6) sekitar pukul 18.00 WIB, yang lalu melakukan aksi bejatnya terhadap korban di belakang SDN Kadudodol 1 di Desa Kadudodol, Kecamatan Cimanuk, Kab. Pandeglang," ungkapnya.

"Pelaku sudah dua kali melakukan aksi bejatnya terhadap korban," kata Fajar.

Saat ini, terduga pelaku sudah diamankan di Polres Pandeglang bersama barang bukti untuk selanjutnya menjalani pemeriksaan intensif.

"Terkait modus pelaku dalam melancarkan aksinya serta kemungkinan adanya korban lainnya, hal ini masih di dalami penyidik," ucapnya.

Selain itu penyidik juga akan bekerja sama dengan KPAID Kabupaten Pandeglang, untuk memberikan pendampingan kepada korban. Hal ini mengingat korban masih dibawah umur.

Pelaku dijerat Pasal 82 ayat (2) jo Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintan Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan pidana penjara maksimal 15 tahun dan denda Rp300 juta. [bal]