Pria Rusia Diduga Pemilik Amonium Nitrat yang Meledak di Beirut Lebanon Ditangkap

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon, disebabkan karena timbunan 2.750 ton amonium nitrat. Bahan Kimia itu disita dari kapal bernama Rhosus milik Igor Grechushkin, seorang pria berkebangsaan Rusia yang tinggal di Siprus.

Otoritas Siprus menyatakan berhasil menangkap dan menginterogasi seorang pria Rusia yang diduga sebagai pemilik kapal yang mengangkut kargo amonium nitrat terbengkalai di Beirut dan menyebabkan ledakan dahsyat.

Juru bicara Kepolisian Siprus, Christos Andreou mengatakan, pria yang namanya dirahasiakan telah diinterogasi di rumahnya di Siprus pada Kamis 6 Agustus malam waktu setempat.

"Ada permintaan dari Interpol Beirut untuk melacak orang ini dan menginterogasinya dengan sejumlah pertanyaan terkiat kargo tersebut," kata Andreou.

Ia mengatakan, informasi terbaru yang didapat langsung dikirim ke Beirut, Lebanon. Namun, Andreou menolak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Pengakuan Kapten Kapal

Petugas penyelamat dan keamanan bekerja di lokasi ledakan besar di Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Ledakan yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya terluka tersebut meratakan pelabuhan dan merusak bangunan di seluruh Beirut. (AP Photo/Hussein Malla)
Petugas penyelamat dan keamanan bekerja di lokasi ledakan besar di Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Ledakan yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya terluka tersebut meratakan pelabuhan dan merusak bangunan di seluruh Beirut. (AP Photo/Hussein Malla)

Sumber keamanan, seperti dikutip dari Antara, Jumat (7/8/2020), yang meminta identitasnya dirahasiakan, menyebutkan bahwa pria itu merupakan pengusaha asal Rusia, Igor Grechushkin, yang berusia 43 tahun. Grechushkin belum berhasil dihubungi.

Boris Prokoshev, yang merupakan kapten kapal kargo Rhosus pada 2013, mengungkapkan bahwa bahan kimia itu berakhir di Beirut setelah si pemilik kapal, Igor Grechushkin memintanya berhenti di Lebanon untuk mengambil kargo tambahan.

Bahan kimia yang disimpan di Beirut selama 6 tahun itu meledak pada Selasa 4 Agustus, dalam bencana paling mengerikan di Lebanon.

Kronologi Penyitaan Amonium Nitrat di Beirut

Dalam gambar drone ini, silo yang hancur berada di antara puing-puing setelah ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Ledakan di kawasan pelabuhan itu mengguncangkan seluruh ibu kota, mengguncang bangunan, dan menebarkan kepanikan di antara warganya. (AP Photo/Hussein Malla)
Dalam gambar drone ini, silo yang hancur berada di antara puing-puing setelah ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Ledakan di kawasan pelabuhan itu mengguncangkan seluruh ibu kota, mengguncang bangunan, dan menebarkan kepanikan di antara warganya. (AP Photo/Hussein Malla)

Dilansir The Moscow Times, pada 2013, Kapal Rhosus terdampar di Beirut akibat mengalami kerusakan. Kapal berbendera Moldova itu berangkat dari Georgia menuju Mozambik.

Ketika kapal masih berada di Beirut, Igor Grechhukshin menyatakan bangkrut, akibatnya kapal Rhosus beserta krunya sempat terlantar di Beirut.

The Siberian Times menyebut penyitaan itu akibat kurangnya dokumen dan persyaratan transportasi. Kru kapal itu terdiri atas delapan warga Ukraina dan dua warga Rusia.

Kru kapal sempat mengeluhkan aksi Igor Grechuskhin yang menelantarkan kru dan tidak memberikan uang. Saat itu, kru kapal meminta tolong pemerintah Ukraina dan organisasi internasional agar bisa pulang.

Selanjutnya pada 2014, otoritas Lebanon menyita 2.750 amonium nitrat di kapal itu. Amonium nitrat itulah yang lantas ditaruh di gudang dekat pelabuhan dan mengakibatkan ledakan.

Kronologi itu sesuai dengan versi Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab yang berkata amonium nitrat telah tersimpan selama enam tahun di gudang yang meledak.

Saksikan video pilihan di bawah ini: