Pria Timbuktu Dicambuk 40 Kali karena Minuman Keras

Bamako (AFP/ANTARA) - Seorang pria Timbuktu yang dituduh menenggak minuman keras dicambuk 40 kali Senin oleh anggota-anggota kelompok garis keras yang menguasai kota Mali utara itu dan memberlakukan hukum Islam, kata sejumlah saksi.

"Seorang pria muda baru saja dicambuk 40 kali karena menenggak minuman keras. Hukuman pencambukan itu dilakukan di pasar Timbuktu," kata seorang warga kepada AFP melalui telefon.

"Ia terluka dan dibawa ke rumah sakit," tambah warga yang tidak bersedia disebutkan namanya itu.

Beberapa saksi lain mengkonfirmasi insiden tersebut.

Militan garis keras Ansar Dine (Pembela Iman) merupakan salah satu dari sejumlah kelompok terkait Al Qaida yang mengusai Mali utara di tengah kekosongan kekuasaan akibat kudeta militer pada 22 Maret di wilayah selatan.

Kelompok-kelompok itu memberlakukan sharia di wilayah mereka dan berniat memperluas penerapan hukum Islam itu di kawasan lain Mali.

Seorang pria dan seorang wanita yang dituduh memiliki anak di luar nikah dihukum cambuk 100 kali masing-masing di Timbuktu pada 20 Juni, dan Ansar Dine menghancurkan semua bar di kota tersebut.

Kelompok itu juga menghancurkan makam-makam kuno Sufi di Timbuktu, yang diklasifikasi UNESCO sebagai lokasi warisan dunia.

Mereka menganggap tempat-tempat keramat tersebut sebagai musyrik dan menghancurkan tujuh makam dalam waktu dua hari saja.

Mali pada 1 Juli mendesak PBB mengambil tindakan setelah kelompok garis keras menghancurkan tempat-tempat keramat di Timbuktu yang didaftar badan dunia itu sebagai kota yang terancam punah.

"Mali mendesak PBB mengambil langkah-langkah nyata untuk menghentikan kejahatan terhadap warisan budaya bangsa saya ini," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Mali Fadima Diallo dalam pernyataan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Dalam pidatonya pada pertemuan tahunan UNESCO di kota Saint Petersburg, Rusia, ia meminta dunia menunjukkan solidaritas dan mengutuk serangan-serangan pada akhir Juni itu.

Pada 15 Juli, gerilyawan suku Tuareg yang menguasai wilayah utara Mali pada April mengumumkan penghentian upaya untuk mendirikan sebuah negara terpisah.

Pernyataan itu disampaikan suku Tuareg setelah pemberontakan mereka dibajak oleh kelompok garis keras terkait dengan Al Qaida yang kini menguasai wilayah utara Mali.

"Kami mengupayakan kemerdekaan kebudayaan, politik dan ekonomi, namun tidak pemisahan diri," kata Ibrahim Ag Assaleh, seorang anggota senior Gerakan Pembebasan Nasional Azawad (MNLA), kepada Reuters melalui telefon.

MNLA pada pertengahan Januari meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya.

Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja.(rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.