Primavera Dulu dan Sekarang: Pesepak Bola Indonesia Hasil Proyek Ambisius di Italia

Bola.com, Jakarta - Mimpi pesepak bola muda Indonesia untuk bermain di klub elite Eropa pernah membubung tinggi pada era 1990-an. Kala itu, PSSI sebagai otoritas tertinggi sepak bola Tanah Air mengirim tim usia muda untuk berlatih dan berkompetisi di Italia.

Di Italia, mereka bertanding di Kompetisi Primavera. Maka tim ini pun lebih dikenal dengan nama PSSI Primavera. Materi tim mayoritas berasal dari Diklat Ragunan Jakarta, kawah Chandradimuka pemain terbaik Indonesia yang masih usia sekolah.

Proyek yang didanai oleh pengusaha Nirwan Bakrie ini bekerja sama dengan Sampdoria, klub elite Italia saat itu. Lewat jalur Sampdoria, tim muda Indonesia bisa bertanding di kompetisi Primavera musim 1993-1994.

Mereka yang masuk dalam angkatan pertama adalah Kurnia Sandi, Ari Supriarso (kiper) Gusnedi Adang, Anang Maruf, Eko Purjianto, Yeyen Tumena, Dwi Prio Utomo, Fauzi Irfan, Supriono (belakang) Bima Sakti, Nurul Huda, Frido Yuwanto, Trimur Vedayanto, Dedy Umarella, Ismayana, Ilham Romadhona, Arisandi (tengah) Dian Irsandi, Ferry Taufik, Kurniawan Dwi Yulianto, Indriyanto Nugroho, Asep Dayat, Irwan Fahrezie (depan).

Pada tahap berikutnya, pelatih PSSI Primavera, Romano Matte yang didampingi Danurwindo, mendatangkan pemain tambahan seperti Aples Tecuari, Alex Pulalo (belakang), Chris Yarangga (tengah) dan Andi Iswantoro (kiper).Putaran final Piala Asia U-19 1994 merupakan ajang perdana tim ini dengan kostum merah putih.

Bima Sakti dan-kawan tergabung di Grup A bersama Qatar, Suriah, Kazakhstan dan Irak. Meski berlaga di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, PSSI Primavera gagal melangkah ke semifinal.

Dari empat laga, PSSI Primavera mencatat hasil satu kali menang, dua imbang dan satu kalah. Suriah dan Irak yang mewakili grup ini. Suriah akhirnya meraih trofi juara setelah mengalahkan Jepang 2-1 di final.

Kualifikasi Olimpiade Atlanta 1996

PSSI Primavera (Istimewa)

Setahun berikutnya, PSSI Primavera kembali unjuk kemampuan di Kualifikasi Olimpiade Atlanta 1996.

Indonesia berada satu grup dengan Hongkong dan Korea Selatan. Hanya juara grup yang berhak lolos. Indonesia mampu melewati Hongkong. Tapi, gagal menghadang keperkasaan Korea Selatan.

Dalam dua pertemuan, Kurniawan dan kawan-kawan kalah 1-2 dan 0-1.Meski gagal, penampilan PSSI Primavera yang mayoritas masih berusia 19 tahun tetap mendapat apresiasi.

Korea Selatan memang lebih matang dengan materi pemain berusia 21-22 tahun. Belakangan, enam pemain mereka, termasuk kiper Lee Won-jae masuk skuat tim senior Korea Selatan yang berhasil menembus semifinal Piala Dunia 2002.

Setelah Pra Olimpiade, PSSI Primavera diganti dengan juniornya dengan nama baru, PSSI Baretti. Nama ini juga sesuai nama kompetisi yang mereka ikuti di negara yang sama. Dua musim berlatih dan bertanding di Kompetisi Primavera membuat mental dan teknik pemain PSSI Primavera berkembang baik.

Hal ini jadi modal mereka menembus skuat senior. Nama-nama pemain seperti Kurnia Sandy, Aples Tecuari, Eko Purjianto, Anang Ma'ruf, Yeyen Tumena, Bima Sakti, Supriono, Bima Sakti, Alex Pulalo, Indriyanto Nugroho dan Kurniawan Dwi Yulianto, secara reguler bergantian masuk daftar panggilan tim nasional senior sejak 1996 sampai awal 2000-an.

Kiprah Personal

PSSI Primavera (Istimewa)

Secara personal, penampilan anak-anak PSSI Primavera sempat mencuri perhatian klub-klub Eropa. Kurniawan Dwi Yulianto jadi pionirnya.

Berkat keberhasilannya masuk dalam daftar top scorer Kompetisi Primavera 1993-1994, Sampodria memasukkan namanya dalam daftar pemain yang menjalani tur Asia pada 1994, termasuk ke Jakarta.

Saat itu, Sampdoria ditangani oleh pelatih Sven Goran Eriksson dengan pemain bintangnya Roberto Mancini dan Attilo Lombardo.Sepulang dari tur Asia, Sampdoria meminjamkan Kurniawan ke Luzern (Swiss). Semusim bermain bersama Luzern di kompetisi kasta tertinggi Swiss, Kurniawan mengemas 3 gol dalam 12 laga.

Pencapaian yang sejatinya tidak terlalu mengecewakan buat pemain yang masih berusia 18. Musim berikutnya, Sampdoria memulangkan Kurniawan untuk menjalani latihan pra musim.

Tapi, Kurniawan tiba-tiba memutuskan pulang ke tanah air meski sempat ikut berlatih bersama nama-nama terkenal saat itu, yakni Mancini, Ruud Gullit, David Platt, Christian Karembeu dan Sinisa Mihajlovic.

Selain Kurniawan, Sampdoria sempat memasukkan nama Anang Ma'ruf dalam tur mereka. Tapi, justru Kurnia Sandy yang akhirnya masuk dalam daftar pemain musim 1995-1996 meski hanya berstatus kiper keempat di Sampdoria.

Satu nama lainnnya adalah Bima Sakti. Kapten PSSI Primavera ini dipinang klub asal Swedia, Helsinborg IF. Di klub ini, Bima Sakti hanya bertahan selama semusim sebelum kembali ke tanah.

Pengalaman bermain di Eropa jadi garansi mereka masuk skuat tim nasional senior pada berbagai ajang. Di antaranya Piala Asia, Piala Tiger (AFF) dan SEA Games.

Jadi Pelatih

Pelatih Timnas Indonesia U-16, Bima Sakti, memberikan arahan saat melawan tim Piala Soeratin Bekasi U-17 pada laga uji coba di Stadion Patriot, Kota Bekasi, Jumat (13/3/2020). Kedua tim bermain imbang 1-1. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Setelah pensiun sebagai pemain, mayoritas pemain PSSI Primavera beralih status menjadi pelatih. Sang kapten, Bima Sakti kini menjadi pelatih kepala Timnas Indonesia U-16 dibantu rekannya, Indriyanto Nugroho.

Kurniawan Dwi Yulianto meneruskan kiprahnya di luar negeri dengan menerima tawaran Sabah FA, klub Liga Super Malaysia sebagai pelatih kepala. Satu nama lain, Yeyen Tumena pernah menjadi Direktur Teknik Bhayangkara FC dan asisten pelatih tim nasional senior.

Di level klub, Kurnia Sandy menjadi pelatih kiper di Madura United serta Eko Purjianto tercatat sebagai asisten pelatih di Bali United.

Nama-nama lain seperti Anang Ma'ruf, Ilham Romadona, Frido Yuwanto dan Nurul Huda juga sudah mengantongi lisensi kepelatihan level AFC untuk menangani tim Pro-Elite Liga 1.

Ada juga yang menangani tim PON daerah mereka. Seperti Gusnedi Adang yang menjadi pelatih tim Pra PON Sumatra Barat dan Aples yang membesut tim PON Putri Papua Barat.

Supriono, justru lebih kondang sebagai komentator sepak bola pada sebuah stasiun televisi nasional. Nama lain, Irwan Fahrezie juga bekerja di televisi nasional.

Video: Jejak Bima Sakti di SEA Games 1997