Prinsip Fair Play yang Jadikan Liliyana Natsir Legenda Sejati

Luzman Rifqi Karami
·Bacaan 1 menit

VIVA – Tak bisa dipungkiri, Liliyana Natsir merupakan salah satu pebulutangkis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Sederet gelar mampu disumbangkan wanita yang akrab disapa Butet ini.

Duetnya bersama Tontowi Ahmad di sektor ganda campuran mampu berkali-kali mengharumkan nama Indonesia. Empat gelar juara dunia, tiga All England secara beruntun dan medali emas Olimpiade Rio 2016 adalah persembahan prestisius yang pernah diraih Butet.

Ada satu hal yang menjadikan Butet layak disebut legenda sejati. Wanita 35 tahun ini selalu memegang sikap fair play. Tak pernah sekalipun Butet melakukan trik atau cheating dalam pertandingan.

"Trik dan cheating selalu ada batasnya. Tapi fair play tak ada ujungnya. Ia berlaku sepanjang masa," kata Butet dalam buku Butet Legenda Sejati karya Hamid Awaludin.

Baca juga: Liliyana Natsir Pebulutangkis Putri Terbaik BWF dalam Satu Dekade

Kita tak pernah melihat Butet mengulur-ulur waktu untuk mengusir kelelahan. Butet tidak terbiasa menekuk lawan dengan cara berpura-pura mengikat tali sepatu atau mengambil handuk. Dia sangat patuh pada aturan main di lapangan.

Butet mengaku, dia pernah marah atau kesal terhadap keputusan wasit atau hakim garis. Namun, dia tak mau membuang energinya untuk meluapkan emosi.

"Tentu ada rasa kesal, tapi saya tak pernah menyimpannya apalagi mau marah. Semua saya lalui begitu saja. Saya manusia masa depan yang selalu mengejar mimpi di depan sana," kata Butet.

"Orang yang suka marah pasti energinya hanya untuk marah. Saya ini the champion, harus selalu menjaga diri agar tidak marah. Biar energi saya tetap ada untuk menaklukkan lawan," tegasnya.