Ini Dia Prinsip-prinsip Etika dan Komunikasi Bisnis dalam Islam

Dian Lestari Ningsih, ariefpraistio30-282
·Bacaan 5 menit

VIVA – Perkembangan bisnis sangat cepat dan dinamis, serta persaingan yang begitu ketat ditambah adanya faktor pandemi Covid-19 yang membuat para pebisnis memutar otak agar usaha yang telah dijalaninya tidak mengalami kerugian. Hal ini yang mendorong para pelaku bisnis untuk menggunakan berbagai cara, dalam rangka mencapai tujuan dan mencegah kerugian yang akan diterima olehnya.

Oleh karena itu, para pelaku bisnis dalam melakukan aktivitasnya memerlukan tata nilai, norma dan aturan sehingga dalam pengelola bisnisnya dapat berjalan dengan lancar, baik, dan berkesinambungan yang pada akhirnya menghasilkan manfaat atau keuntungan (profit) yang semestinya dan memperoleh keberkahan dalam usahanya.

Nilai etika dan penyampaian komunikasi seorang pelaku bisnis, merupakan suatu indikator yang dapat menentukan sikap dan perilaku untuk berinteraksi dengan orang lain. Kejujuran merupakan modal kepercayaan utama atau bisa dikatakan kunci sukses dalam dunia bisnis.

Kata orang bijak, lebih baik kehilangan keuntungan hari ini dari pada kehilangan kepercayaan hari esok. Suatu perusahaan yang kehilangan kepercayaan dari konsumen atau mitra usahanya, bisa langsung berpindah kepada perusahaan lain yang dapat lebih dipercaya.

Dalam menjalani bisnis pada masa persaingan ini, terdapat beberapa variabel yang perlu diperhatikan antara lain; pengendalian diri, mempertahankan jati diri, pengembangan tanggung jawab sosial, menciptakan persaingan yang sehat, mengimplementasikan konsep pembangunan yang berkelanjutan, mampu mengucapkan yang benar itu adalah benar, mampu mengucapkan salah apabila memang itu salah.

Dengan adanya nilai moral dan etika dalam dunia bisnis, serta kesadaran para pelaku bisnis untuk melaksanakannya, maka istilah bisnis hitam (menghalalkan segala cara) dapat terhindarkan. Etika dan komunikasi bisnis adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan bisnis yang dilakukan oleh para pelaku bisnis.

Masalah etika dan ketaatan akan norma-norma agama dan hukum yang berlaku, merupakan dasar yang kuat yang harus dimiliki oleh pelaku bisnis dan akan menentukan sikap atau tindakan yang perlu diambil dalam mengelolah bisnisnya.

Saat ini, tidak dapat disangkal bahwa kita berada dalam penguasaan peradaban (civilization) atau peradaban Barat yang menggunakan sistem kapitalisme dengan ideologi sekuler sebagai dasar dalam kehidupan (world view). Seperti yang diketahui, kapitalisme ini bersifat sekuler, rasional, materialitas, individualistis, leberalistis, hedonisme, dan nihilisme.

Kapitalistas sekuler ini pada hakikatnya tidak mengakui adanya Tuhan, dan inti dari kepercayaan (agama) termasuk masalah akhirat, pertanggung jawaban di hari akhir (yaumilakhir), malaikat, apalagi kitab suci. Kalaupun penganutnya percaya pada agama atau menganut agama, agama dan keyakinan itu dipisahkan dari standar prilakunya sehari-hari.

Dan menurut saya itu juga telah terjadi di Indonesia, banyak pelaku bisnis bahkan warga sekali yang tidak takut terhadap hukuman atau UUD yang berlaku itu dikarenakan banyak masyarakat Indonesia tidak takut dengan hukuman yang akan Tuhan berikan.
Hal ini terjadi di kalangan pelaku bisnis yang pada gilirannya berimbas negatif pada yang lain.

Artinya, paradigma yang terbangun di masyarakat bahwa harta, jabatan, dan kekuasaan menjadi tolok ukur baik dan tidaknya seseorang. Disinilah pentingnya etika bisnis islami ditumbuh kembangkan sebagai alternatif solusi untuk memecahkan berbagai persoalan bisnis yang berkembang, agar kita tidak terjebak pada sifat-sfat kapitalis, sekularis, individualis, hedonis, dan perilaku berlebih-lebihan yang menghalalkan segala cara dalam mengelolah bisnis.

Etika
Jika ditelusuri secara historis, etika adalah cabang filsafat yang mencari hakikat nilai-nilai baik dan buruk yang berkaitan dengan perbuatan dan tindakan seseorang, yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya.

Etika Bisnis Islam adalah suatu proses dan upaya untuk mengetahui hal-hal yang benar dan yang salah yang selanjutnya tentu melakukan hal yang benar berkenaan dengan produk, pelayanan perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan tuntutan perusahaan.

Komunikasi
Jika ditelusuri secara web, komunikasi adalah suatu proses ketika seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain.

Komunikasi Bisnis Islam adalah suatu proses yang berlangsung baik dengan pihak internal maupun pihak eksternal (dalam konteks yang luas) dan implementasiannya dalam strategi promosi, publikasi, periklanan, tanggung jawab sosial, public relation (dalam konteks yang sempit) al-Qur’an telah memberikan prinsip-prinsip dan aturan yang harus ditaati oleh pelaku bisnis.

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam
1. Alat Ukur Kataqwaan Seseorang. Allah SWT berfirman (QS. AlBaqarah, 2: 188)

Artinya: "Dan janganlah kalian memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang bathil. Dan janganlah pula kalian mem-bawa urusan harta itu kepada hakim, agar kamu dapat memakan sebagian dari harta manusia dengan cara yang dosa sedangkan kalian mengetahui."
2. Mendatangkan Keberkahan .terhadap hasil yang diterima Allah SWT berfirman (QS. Al-A’raf, 7: 96)
Artinya: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayatayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."
3. Mendapatkan Derajat yang tinggi Seperti Para Nabi, Shiddiqin & Syuhada Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra beliau berkata bahwa Rasul Allah SAW. bersabda, "Pebisnis yang jujur lagi dipercaya (amanah) akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada". (HR. Turmudzi)

4. Berbisnis Merupakan Sarana Ibadah Kepada Allah SWT bukan hanya mencari keuntungan semata. Banyak ayat yang menggambarkan bahwa aktivitas bisnis merupakan sarana ibadah, bahkan perintah dari Allah SWT. Diantaranya adalah (QS. AtTaubah, 9: 105): Artinya: "Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".

5. Tidak Melanggar Prinsip Syariah (Aturan-aturan yang telah diberikan Allah). Allah SWT berfirman (QS. 47: 33)Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atlah kepada Allah dan ta'atlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amal mu."

6. Ukhuwah Islamiyah (Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia yang mereka itu bukan para nabi dan bukan pula orang-orang yang mati syahid, namun posisi mereka pada hari kiamat membuat nabi dan syuhada' menjadi iri.

Sahabat bertanya, 'beritahukan kepada kami, siapa mereka itu? Rasulullah menjawab, 'mereka adalah satu kaum yang saling mencintai karena Allah meskipun di antara mereka tidak ada hubungan kekerabatan dan tidak pula ada motivasi duniawi. Demi Allah wajah mereka bercahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut tatkala manusia takut, dan mereka tidak bersedih hati." (HR. Abu Daud)