Pro Kontra Penempatan Lurah Lenteng Agung

TEMPO.CO, Jakarta -Sejumlah warga menolak penempatan Lurah Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan di wilayahnya. Lurah Susan Jasmine Zulkifli yang beragama Protestan dianggap tidak merepresentasikan wilayah Lenteng Agung yang mayoritas beragama muslim.

"Dari dulu pemimpin di sini muslim," ujar perwakilan warga penolak Mochamad Rusli, 45 tahun saat ditemui di kediamannya di Lenteng Agung, Kamis, 22 Agustus 2013. Ia mengatakan keberatan karena merasa kurang sreg pemimpin non-muslim memimpin di wilayah mayoritas muslim.

Ia menyatakan baiknya Susan dipindah ke daerah yang lebih heterogen. "Kami bukan menolak, tapi menyarankan dipindah ke wilayah lain," ujar ia.

Pada Senin lalu, Rusli sudah menyampaikan pandangan itu ke Balaikota. Ia mengklaim sudah mengumpulkan 2.300 tanda tangan dan 1.500 Kartu Tanda Penduduk untuk memperkuat penyampaian pendapat itu.

"Angkanya masih belum mayoritas, tapi kalau semua warga sudah tahu, 99 persen saya yakin mereka mendukung," ujarnya. Saat ini tercatat ada sekitar 9.000 Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Lenteng Agung.

Namun rupanya, tak semua orang sependapat dengan Rusli. Ketua RW 02 Sardiman menyatakan tak ada masalah dengan kepemimpinan Lurah Susan. Ia mengatakan secara obyektif, sebagai warga siap menilai sang lurah dari kinerja yang baru diberikannya.

"Baru satu bulan (menjabat) apa yang bisa kami nilai," ujarnya. Ia mengatakan tak akan menilai seseorang dari kepercayaan yang dianutnya, tapi apa yang telah diberikannya untuk masyarakat sekitar.

Saat coba ditemui di kantornya Kamis sore, Lurah Susan sedang tidak di tempat. "Bukan pulang, lurah sedang blusukan," ujar staf kelurahan, Abdul Roup. Ia menyatakan bila sudah blusukan, Susan suka lupa waktu. "Bahkan kadang malam baru pulang," ujarnya.

Blusukan disebut menjadi salah satu strategi Susan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Ia aktif melakukan itu setiap hari. "Blusukannya sampai ke pinggir kali (Ciliwung)," ujarnya.

Menurut Abdul, Susan diterima masyarakat Lenteng Agung. Ia kaget mendengar kabar penolakan sejumlah warga terhadap pemimpinnya itu. "Saya baru dengar. Ah.. warga baik-baik saja kok," ujarnya.

Ia memberi contoh ketika blusukan, banyak warga yang memeluk dan berfoto bersama sang lurah. "Ia juga rajin silaturahmi ke rumah warga," ujarnya.

Namun hal ini tak membuat kubu penolak luluh. "Kami beri deadline ke Balaikota hingga Senin. Kalau tidak kami siap demo di sana dan di kantor Kelurahan," ujar Rusli.

M. ANDI PERDANA

Terhangat: 

Sisca Yofie |Suap SKK Migas  | Penembakan Polisi | Pilkada Jatim

Berita Terpopuler:

Rachmawati: SBY Tak Punya Etika Politik

Soal Tes Keperawanan, Ini Jawaban HM Rasyid

KPK: Djoko Susilo Cuma Bisa Jadi Ketua RT

Jenderal Moeldoko: Saya Bukan Ahli Surga

Dahlan Iskan: Untung SBY Tak Seperti Mursi

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.