Produk kayu RI ke EU di bawah AS dan China meski ada skema FLEGT

·Bacaan 2 menit

Pasokan produk kayu Indonesia ke Uni Eropa masih di bawah Amerika Serikat dan China, meskipun. sudah memiliki skema kerja sama Forest Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT).

Duta Besar Indonesia untuk Uni Eropa Andri Hadi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan hingga kini Indonesia masih berada di bawah China dan Amerika Serikat sebagai pemasok utama produk kayu ke Uni Eropa dan Inggris.

Padahal, menurut dia, China dan Amerika Serikat tidak memiliki perjanjian kemitraan (VPA) seperti halnya Uni Eropa dengan Indonesia.

"Artikel 13 pada VPA FLEGT yang mengatur tentang insentif pasar belum diimplementasikan oleh sejumlah negara anggota Uni Eropa," kata Andri saat berbicara di Paviliun Indonesia di COP26, Glasgow, Skotlandia.

Baca juga: Dukungan keberlanjutan pada SVLK Indonesia

Baca juga: FAO dukung produksi, perdagangan kayu legal di Indonesia

Deputi Dirjen Lingkungan Komisi Uni Eropa Patrick Child mengatakan dengan pengakuan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) sebagai lisensi FLEGT maka produk kayu Indonesia bisa lebih mudah untuk masuk ke pasar Uni Eropa.

Menurut Child, produk furnitur dan kertas berbasis kayu Indonesia termasuk yang menikmati kemudahan tersebut. “Namun dampaknya memang perlu dioptimalkan," katanya.

Ia mengatakan Uni Eropa berjanji akan terus bekerja sama dengan Indonesia demi keuntungan kedua belah pihak terkait FLEGT. Termasuk soal penerapan uji tuntas pada produk kayu yang tidak dilengkapi dengan lisensi FLEGT.

Baca juga: Perjanjian FLEGT Indonesia-Inggris antisipasi dampak Brexit

Baca juga: SVLK tingkatkan daya saing furnitur Indonesia

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) yang juga Ketua Forum Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) Indroyono Soesilo menyatakan promosi perlu digencarkan untuk mendorong keberterimaan SVLK.

Indroyono mengatakan Indonesia sudah mengajukan Dubes Yuri O Thamrin sebagai Direktur Eksekutif International Tropical Timber Organizaton (ITTO) yang diharapkan bisa ikut mempromosikan produk kayu berkelanjutan seperti pada skema SVLK.

"Dengan Pengalamannya dalam berdiplomasi di kancah internasional, saya optimis keinginan itu bisa terwujud," katanya.

Baca juga: Indonesia negara pertama punya lisensi FLEGT ke 28 negara Uni Eropa

Baca juga: Menlu: FLEGT beri keunggulan produk kayu Indonesia

Baca juga: Indonesia telah terbitkan 845 lisensi FLEGT

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel