Produksi Listrik Panas Bumi Pertamina Capai 4.618 GWh pada 2020

Fikri Halim, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Pertamina (Persero) melalui afiliasinya yakni PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), berhasil mencatat produksi setara listrik sebesar 4.618 gigawatt hour (GWh). Ini lebih tinggi 14 persen dari target yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2020 yaitu sebesar 4.045 GWh.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yuniarto mengatakan, capaian produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di atas target itu bisa diraih karena optimalisasi di area-area PGE. “Karena pembangkitan dan penyerapan yang optimal dari area panas bumi PGE," kata Yuniarto dalam keterangan tertulisnya, Selasa 16 Maret 2021.

Selain menjaga pasokan listrik dari pembangkit yang telah dioperasikan saat ini, Yuniarto mengatakan, pihaknya juga tengah melakukan kajian dalam rangka meningkatkan kapasitas terpasang panas bumi untuk pembangkitan energi listrik. Dia menyebut, area yang menjadi fokus awal dalam kajian ini adalah Area Ulubelu (Lampung) dan Area Lahendong (Sulawesi Utara).

"Kita berharap kajian untuk pengembangan wilayah kerja PGE ini dapat memberikan hasil yang positif untuk pengembangan panas bumi di Indonesia," ujar Yuniarto.

Dia menjelaskan, PGE akan terus berkomitmen untuk meningkatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi (energy mix) nasional, menjadi 23 persen pada tahun 2025 khususnya dari sektor energi panas bumi.

Hal itu menjadi komitmen PGE, sebagai salah satu pengembang panas bumi di Indonesia yang wilayah kerjanya telah berkontribusi sekitar 88 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia.

PGE saat ini telah mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi, di mana dalam Wilayah Kerja tersebut telah terbangkitkan listrik panas bumi sebesar 1877 MW. Rinciannya yakni terdiri dari 672 MW yang dioperasikan sendiri oleh PGE, dan 1205 MW dikelola melalui Kontrak Operasi Bersama.

"Kapasitas terpasang panas bumi di Wilayah Kerja PGE tersebut berkontribusi sebesar sekitar 88 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 9,5 juta ton CO2 per tahun," ujarnya.