Produksi Pertamina Hulu Mahakam Capai 104 Persen di Tengah COVID-19

Dusep Malik
·Bacaan 3 menit

VIVA – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), yang melakukan kegiatan operasi produksi di Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur, mencatatkan kinerja positif sepanjang 2020 di tengah pandemi COVID-19. Hal itu terlihat dari realisasi produksi PHM yang melebihi target ditopang oleh banyaknya inovasi.

Tercatat hingga 24 Desember 2020 atau sepekan sebelum pergantuan tahun, anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia itu mampu memproduksikan minyak dan gas di atas proyeksi, yaitu mencapai 29,4 ribu BOPD atau sekitar 104 persen dari usulan Work Plan and Budget (WP&B) sebesar 28,4 ribu BOPD. Sedangkan produksi gas mencapai 605,5 MMSCFD dari usulan WP&B sebesar 588 MMSCFD.

"Kami juga telah mengebor 79 sumur pengembangan dari target 78 sumur dalam WP&B, dan diharapkan 1–2 sumur lagi akan diselesaikan hingga tutup tahun,” ujar General Manager PHM, Agus Amperianto dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 26 Desember 2020.

Agus mengungkapkan, target pengeboran sumur tercapai antara lain berkat inovasi yang dikembangkan dalam operasi pengeboran, yang bisa menurunkan durasi dan biaya pengeboran.

Salah satunya, kata dia, adalah dengan penerapan teknik pengeboran tanpa rig (rigless) untuk mengerjakan sumur dan menggantikannya dengan Hydraulic Workover Unit (HWU) baik di wilayah delta maupun lepas pantai.

“Metode rigless ini terbukti secara signifikan menekan biaya pengerjaan sumur,” katanya.

Menurut Agus, banyaknya inovasi di sektor operasi mendorong produksi minyak dan gas di atas target. Inovasi tiada henti terus dilakukan par insinyur PHM. Inovasi terkini adalah penyelesaian sumur pengembangan PK-B8.G1, tercepat di area lepas pantai (offshore) Mahakam dengan durasi 10,96 hari pada Jumat, 25 Desember 2020.

"Tubingless cementing berhasil dilakukan dengan offline (tanpa rig) dan menjadi enabler record baru," ujarnya.

Tak cukup di situ, para insinyur PHM sebelumnya juga memecahkan rekor pengeboran sumur lepas pantai tercepat di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, yaitu sumur B-G-4.G1 di Lapangan Bekapai.

Insinyur PHM berhasil menyelesaikan pengeboran sumur lepas pantai dalam tempo 13,5 hari dengan kedalaman 2.774 meter dari dasar laut pada kuartal III-2020. Rekor sebelumnya terjadi pada 2019, yakni 16,5 hari. Operasi ini nihil kecelakaan kerja dan tanpa non-productie time pengeboran dan dilaksanakan dengan protokol COVID-19.

Selain itu, inovasi lain yang dikembangkan untuk efisiensi adalah penerapan arsitektur sumur One Phase Well (OPW), yang berhasil secara signifikan memangkas biaya pengeboran menjadi jauh lebih rendah bila dibandingkan penggunaan arsitektur Shallow Light Architecture (dengan 2 fase pengeboran) yang sebelumnya diterapkan.

Inovasi lain yang dibuat para insinyur di PHM adalah metode slot recovery. Dengan metode ini, platform yang adalah kepala sumur (well head) dari sejumlah sumur yang sudah tidak berproduksi dimanfaatkan untuk mengebor sumur baru.

"Dengan teknik pengeboran side-track menggunakan HWU pada sumur-sumur re-entry, dan memanfaatkan komponen selubung pengeboran dari sumur-sumur lama, PHM berhasil menjaga keekonomian sumur-sumur pengembangan, antara lain karena tidak perlu membuat platform baru yang mahal harganya," katanya.

Berkat berbagai inovasi tersebut, pada Desember ini, PHM berhasil memecahkan dua rekor pengeboran tercepat, yaitu: di sumur delta TN-T165 di Lapangan Tunu dalam waktu 2,15 hari, dengan kedalaman 1.409 mMD, pada 8 Desember 2020, dan sumur offshore PK-B8.G1 di Lapangan Peciko dalam waktu 10,96 hari, dengan kedalaman 4.343 mMd, pada 25 Desember 2020.

"Keberhasilan ini merupakan hasil keteguhan dalam merealisasikan usaha yang agresif dan kolaborasi multi keahlian yang menyiasati operasi dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan," ujar Agus.

Sementara itu, terkait kegiatan operasi, Agus mengakui ada kasus penularan COVID-19 di kalangan pekerja di sejumlah site, namun hal itu tidak mengganggu jalannya kegiatan operasi PHM. Rasio penanganan tingkat kesembuhan mencapai 90 persen, dan sampai saat ini tidak ada lapangan atau kegiatan operasi yang dihentikan sebagai akibat penularan COVID-19.

"Hal itu membuktikan kuatnya komitmen PHM untuk selalu kooperatif dan senantiasa mengembangkan sinergi dengan Pemerintah Kota maupun Satgas COVID-19 di Balikpapan, dalam hal penanganan pandemi selama 2020," katanya. (ren)