Produsen 'Harap-Harap Cemas' Menanti Regulasi Mobil Murah

Wacana soal regulasi mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost and Green Car/LCGC) diharapkan bisa terealisasi pada bulan Agustus nanti. Para pelaku bisnis otomotif di Tanah Air pun 'harap-harap cemas' menanti seperti apakah aturan lengkapnya yang harus dipatuhi nantinya.

"2 tahun lalu, sudah janji-janji terus. Kami harapkan bulan Agustus ini lah. Jadi tahun depan sudah mulai produksinya," ujar Presdir PT Astra Daihatsu Motor, Sudirman MR, yang juga Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam media forum di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (19/6).

Salah satu aturan yang memayungi LCGC saat ini adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 76/PMK.011/2012 tanggal 21 Mei 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 176/PMK.011/2009 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Mesin Serta Barang Dan Bahan Untuk Pembangunan Atau Pengembangan Industri Dalam Rangka Penanaman Modal.

Menurut Sudirman, PMK tersebut bagus untuk mengurangi beban di aspek hulu LCGC, yakni aspek produksi. Namun di hilirnya, yakni Pajak Penjualan atas Barang Mewah/PPnBM, masih belum dirumuskan pemerintah. "Kalau ini belum keluar kami tidak bisa kalkulasi harga," ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah menginginkan LCGC memiliki harga yang terjangkau dengan benchmark harga Rp. 100 juta. Ada dua golongan LCGC, yakni mobil berkapasitas 1.000 cc dan 1.200 cc. Kedua jenis mobil itu harus ramah lingkungan dengan catatan, mobil 1.000 cc memiliki konsumsi BBM 22 km per liter, sementara 1.200 cc memiliki konsumsi BBM 20 km per liter.

Pada program ini merek yang mau berpartisipasi harus bisa memproduksi mobil murah itu, minimal kandungan komponen lokal sebesar 40 persen yang harus ditingkatkan menjadi 80 persen dalam 5 tahun. Jumlah produksi mobil murah itu minimal 100.000 per tahun dengan nilai investasi minimal Rp. 1 triliun. (kpl/bun)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.