Produsen Inavac minta pemerintah fasilitasi sisa peluang booster

PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia selaku produsen swasta Vaksin Inavac di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, meminta pemerintah memberi peluang pasar dari cakupan vaksinasi COVID-19 dosis penguat atau booster yang masih tersisa.

"Masyarakat Indonesia kebanyakan butuh vaksinasi booster. Saat ini masih ada 98,7 juta orang belum divaksin booster," kata Direktur PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia FX Sudirman dalam agenda kunjungan media ke Pabrik Produksi Vaksin Inavac di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu.

PT Biotis selaku produsen Vaksin Merah Putih karya Tim Peneliti Universitas Airlangga dengan merek dagang Inavac mengincar peluang pasar dari cakupan vaksinasi booster dewasa, remaja dan anak.

Hingga hari ini, vaksinasi booster pada usia di atas 18 tahun baru mencakup 30 persen dari target sasaran 141.211.000 orang sehingga masih ada 98,7 juta orang yang belum vaksin booster.

Baca juga: Produsen minta belanja vaksin nasional tetap dialokasikan tahun depan

Baca juga: Produsen sebut Vaksin Inavac bisa untuk booster remaja akhir 2022

Sedangkan vaksinasi booster remaja usia 12-17 tahun dengan jumlah sasaran 26.705.490 orang belum dimulai di Indonesia.

Pun vaksinasi booster pada anak usia 7-11 tahun dengan jumlah sasaran 26.400.300 orang belum dimulai.

"Itu kami minta kepada pemerintah, Kalau Oktober, November, Desember 2022 bisa rilis vaksin, kami harap vaksin Inavac bisa dipakai untuk vaksin booster dewasa. Saya kira akhir tahun sudah jalan," katanya.

Vaksin Inavac berplatform Inactivated Virus hingga saat ini telah memasuki laporan interim fase 3. Ditargetkan pada September 2022 Inavac memperoleh izin edar darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Sudirman mengatakan proses produksi secara massal telah bergulir sejak 12 Juni 2022 dan rilis produk vaksin diperkirakan dimulai 28 September 2022.

"Sejalan dengan uji klinik fase 3 (vaksin primer), dilakukan uji klinik vaksin booster untuk dewasa secara pararel setelah dapat persetujuan uji klinik sejak 28 Agustus. Kami harap selesainya bareng," katanya.

Kebijakan uji klinik secara paralel itu, kata Sudirman, untuk mengejar target pencapaian cakupan vaksinasi booster yang kini masih tersisa di Tanah Air.

Baca juga: Indovac dan Inavac jadi nama vaksin COVID-19 buatan dalam negeri

Baca juga: 61,13 juta jiwa penduduk Indonesia telah divaksin dosis penguat