Produsen-produsen minyak AS berjuang agar bertahan di lautan berlebih

Van Horn (AFP) - Bagi perusahaan-perusahaan yang mengebor cadangan minyak dan gas alam berproduksi tertinggi di dunia yang membentang di antara perbatasan Texas dan New Mexico, jatuhnya harga minyak telah menimbulkan kerugian yang spektakuler.

Craig Blair, pemilik perusahaan minyak dan gas alam Capitan Energy, harus menyaksikan produksi perusahaannya di Permian Basin ambruk dari semula 15.000 barel minyak per hari menjadi hanya 6.000 barel per hari.

Blair menunjuk halaman yang dipenuhi generator, bangunan dan mesin bor yang rapi, yang semuanya tertutup gudang-gudang yang melindungi semua itu dari sinar matahari menyilaukan dan debu kuning abu-abu di mana-mana.

"Jika Anda ada di sini enam bulan lalu, tak akan ada apa-apa di bawah gudang itu," desah lelaki Texas berusia 63 tahun itu.

Rambut keperakannya ditarik ke belakang menyerupai kepang kuda dan mengenakan celana jins serta kemeja biru, Blair membangun usahanya sebagai model swasembada: selain mengekstraksi minyak dan gas, dia memiliki bengkel dan kantor, dan tengah berencana menggeluti peternakan juga.

Tetapi rencana besarnya buyar akibat pandemi COVID-19 yang telah memukul keras industri minyak.

Pada 20 April, harga satu barel minyak turun di bawah nol karena pasar sangat jenuh dan permintaan menguap.

Hari itu saja, Blair memperkirakan rugi setengah juta dolar. Karena tidak punya tempat untuk menyimpan minyak yang telah dipompa untuk jangka panjang, dia harus membayar 37 dolar AS per barel hanya untuk diambil lagi.

Blair memiliki perusahaan ini bersama sepupunya, dan tidak punya pemegang saham.

Tatkala harga minyak turun hingga 50 persen, dia segera merespons. "Satu-satunya cara Anda memenuhi kebutuhan adalah, semuanya harus dipangkas 50 persen. Jadi itu sebabnya kami melakukan hal itu, upah, kontraktor mana pun di luar sana, jika mereka meminta bayaran 100 dolar per jam, mereka harus terima 50 dolar per jam atau mereka tidak bekerja untuk saya saat ini."

Hal itu telah menghentikan tidak terjadinya perdarahan untuk sementara waktu.

Tetapi dalam dua atau tiga bulan, dia khawatir dia harus merumahkan orang-orang, sesuatu yang sudah berhasil dia hindari sampai sekarang.

Capitan Energy menguasai hak mineral sampai area seluas 70.000 hektar, dengan ladang-ladang yang dihiasi bukit-bukit hijau dan coklat, tangki penyimpanan minyak dan gas, serta situs-situs fracking hidrolik.

Ada juga sumur-sumur baru yang ditanam di tanah berpasir. Itu semua tak bisa diselesaikan sebelum krisis virus melanda, proyek itu sendiri bernilai 30 juta dolar AS.

Jika hanya untuk dia seorang, Blair sudah menutup ladang-ladang minyak itu sampai pasar membaik. Tetapi kontraknya dengan perusahaan-perusahaan pipa mengharuskan dia terus memompa, meskipun harga berada di titik terendah.

"Kami telah menghentikan setiap proyek yang tidak kami sedang kami lakukan, jika kami bisa menghentikannya, kami hentikan, dan kami tidak akan memulai kembali sampai harga minyak mencapai sekitar 50 dolar AS per barel," kata dia.

Blair melirik layar ponselnya. "23,35 dolar," gerutu dia. "Ini sudah jadi kebiasaan buruk yang saya lakukan, melihat harga buruk sampai sekitar 40 kali sehari."

jbn/jh/bgs