Produsen pulp bagikan tata kelola keberlanjutan guna mitigasi iklim

Produsen serat, pulp dan kertas yang beroperasi di Provinsi Riau, APRIL Group membagikan tata kelola berkelanjutan perusahaan yang erat kaitannya dengan mitigasi iklim.

Direktur Utama Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), unit operasional APRIL Group, Sihol Aritonang mengatakan dampak perubahan iklim kini menjadi potensi risiko yang dihadapi perusahaan-perusahaan yang harus dikelola sebagaimana risiko bisnis lainnya.

Secara eksternal, lanjutnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, semakin banyak tuntutan kepada bisnis untuk mengungkapkan rencana keberlanjutannya dan tanggap untuk mengatasi masalah iklim.

"Bisnis diharapkan dapat banyak berkontribusi dalam pencapaian target iklim tersebut dan inilah yang kami lakukan," ujarnya.

Dikatakannya, perusahaan memiliki Komite Manajemen Eksekutif yang memimpin penerapan keberlanjutan dan mitigasi iklim yang diimplementasikan dalam setiap divisi bisnis, mulai dari fiber operations hingga pengembangan masyarakat.

Selain itu, memiliki kelompok independen yang terdiri dari ahli kehutanan dan social Stakeholder Advisory Comitee (SAC) yang mengawasi pelaksanaan komitmen keberlanjutan APRIL dan memberikan masukan mengenai mitigasi iklim untuk bisnis.

Lewat implementasi APRIL2030, perusahaan mempraktikkan tata kelola untuk pengambilan keputusan strategis misalnya mengenai peningkatan energi terbarukan dalam bauran energi di operasional dan implementasi program konservasi dan restorasi perusahaan.

Kedepannya, tambahnya, pihaknya memfokuskan upaya mengelola dampak terkait iklim dan memastikan bahwa dampak tersebut terintegrasi ke dalam strategi dan manajemen risiko perusahaan.

"Perubahan iklim memang 'berbiaya' tetapi ekonomi rendah karbon juga membuka peluang bagi pelaku bioekonomi seperti kami,” ujar Sihol dalam panel Net Zero Summit, yang menjadi rangkaian acara B20 di Bali.

Sihol menyatakan, selama ini perusahaan aktif melakukan upaya mitigasi iklim, utamanya dalam mendukung pemerintah untuk mencapai net sink pada 2030 dari industri kehutanan atau FOLU (Forest and Other Land Uses) Net Sink.

Di hulu, komitmen tersebut dilakukan dengan melakukan konservasi kawasan, perlindungan keanekaragaman hayati, dan menerapkan kebijakan zero tolerance pada deforestasi. Di hilir, beralih pada penggunaan bahan bakar yang terbarukan serta berinvestasi pada teknologi sirkular.

Perusahaan juga menargetkan mencapai Iklim Positif yang salah satunya penggunaan 90 persen energi terbarukan untuk kebutuhan pabrik, yang mana saat ini telah mencapai 87 persen berdasarkan audit terakhir yang dilakukan.

Baca juga: KLHK berikan penghargaan ProKlim kepada aktor agenda iklim di tapak

Baca juga: Pemangku kepentingan berkolaborasi tingkatkan konservasi hutan di Aceh