Produsen Rokok Ilegal Beromzet Miliaran Ditangkap

Kudus (ANTARA) - Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Kudus, Jawa Tengah, berhasil menangkap otak sekaligus penyandang dana pembuatan rokok ilegal di daerah setempat dengan omzet selama setahun mencapai puluhan miliar rupiah, Senin.

Menurut Kepala KPPBC Tipe Madya Kudus Anto Trihananto Wahyuhadi, di Kudus, Senin, produsen rokok ilegal bernama Agustinus Sugiharto Subijanto tersebut ditangkap di Jalan Pamularsih Semarang, Jateng pada 1 April 2013 sekitar pukul 05.00 WIB setelah dilakukan pengintaian cukup lama.

Ia mengatakan pelaku tersebut bukan sekadar operator di lapangan, melainkan otak maupun penyandang dana dalam pembuatan rokok ilegal.

Bahkan, kata dia, cukup banyak petugas yang harus dilibatkan untuk menangkap pelaku yang sering berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas.

Petugas mencatat, pelaku memiliki lima tempat persembunyian yang tersebar di Kudus, Semarang, dan Tangerang.

Penangkapan pelaku, katanya, berawal dari pengungkapan kasus rokok ilegal pada 14 Februari 2013 di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kudus dan tempat peternakan ayam di Jalan Lingkar Selatan, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus.

Dalam pengungkapkan kasus rokok ilegal tersebut, katanya, petugas menduga ada keterlibatan produsen rokok legal.

"Setelah pelaku tertangkap, produsen rokok legal tersebut ternyata milik pelaku dengan atas nama orang lain yang berdiri sejak April 2012," katanya.

Potensi kerugian negara yang ditaksir dari tindakan pelaku yang memproduksi rokok ilegal tanpa dilekati pita cukai sejak setahun terakhir mencapai Rp27 miliar.

Taksiran potensi kerugian negara tersebut, katanya, hasil analisa petugas dari dokumen pelaku dalam memproduksi rokok ilegal, jam kerja, dan kapasitas mesin pembuat rokok maupun proses pengiriman rokok kepada pemesannya.

Bahkan, kata dia, potensi kerugian negara masih bisa bertambah, karena pelaku dimungkinkan sudah memproduksi rokok ilegal sejak lama dengan omzet produksi selama setahun mencapai lebih dari puluhan miliar rupiah.

Seharusnya, kata dia, pelaku yang memiliki omzet miliaran rupiah tersebut bisa membuat usaha yang legal, karena mampu membeli mesin rokok sendiri.

Pelaku yang merupakan warga Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus, katanya, masih dalam pemeriksaan petugas guna mengungkap kemungkinan adanya bukti lain yang menguatkan dirinya sebagai otak sekaligus pemodal dalam pembuatan rokok ilegal.

Rokok hasil produksi pelaku, katanya, diedarkan hingga beberapa kota di Tanah Air, seperti Nusa Tenggara, Sulawesi, dan beberapa kota besar lainnya.


Atas tindakannya tersebut, pelaku dapat dikenakan Pasal 55 UU Nomor 11/1995 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 39/2007 tentang Cukai dengan ancaman pidana penjara satu hingga delapan tahun dan denda paling sedikit 10 kali nilai cukai dan paling banyak 20 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

Selain itu, pelaku juga akan dijerat dengan UU Nomor 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang karena didukung sejumlah bukti.



(U.KR-AN/B/M.H. Atmoko/M.H. Atmoko) 01-04-2013 17:18:06

NNNN

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.