Produsen sebut Vaksin Inavac bisa untuk booster remaja akhir 2022

Direktur Utama PT Biotis Pharmaceutical Indonesia FX Sudirman memperkirakan vaksin produksi dalam negeri Inavac dapat digunakan sebagai vaksin booster atau dosis penguat untuk remaja pada akhir tahun 2022.

"Booster heterologus Inavac bisa digunakan akhir tahun ini untuk remaja. Izin Penggunaan Darurat (EUA)-nya ditargetkan rilis pada September 2022 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)," kata FX Sudirman dalam agenda Lokakarya Pengembangan Obat Dalam Negeri di Hotel Ayana MidPlaza Jakarta, Jumat.

Vaksin Inavac merupakan merek dagang dari Vaksin Generik Merah Putih berplatform inactivated virus yang kini dikembangkan oleh Tim Peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan penyedia fasilitas produksi PT Biotis Pharmaceutical Indonesia.

Inavac yang mulai dikembangkan sejak 12 Mei 2020 itu, hingga saat ini telah memasuki uji klinik tahap akhir atau ketiga yang melibatkan 4.005 subjek untuk injeksi kedua dosis primer.

Baca juga: Warga penerima dosis ketiga vaksin COVID-19 capai 60,08 juta jiwa

FX Sudiman mengatakan penelitian dosis primer itu dirangkai dengan penelitian booster pada anak, remaja dan dewasa. "Sekarang yang dilakukan adalah penelitian untuk dosis primer pada dewasa," katanya.

Rencananya, booster Inavac bersifat heterologus atau campuran vaksin dengan merek atau platform yang berbeda. "Uji klinisnya berjalan paralel dengan booster heterologus, jadi vaksin Sinovac bisa menggunakan Inavac," katanya.

Menurut FX Sudirman, seluruh tahapan protokol pelaksanaan uji klinis didiskusikan secara berkala dengan BPOM. "Tunggu tanggal mainnya saja. Semuanya secara bertahap," katanya.

Baca juga: BPOM: Swasta rintis produksi vaksin lokal mRNA via transfer teknologi

Ia mengatakan fasilitas produksi PT Biotis Pharmaceutical Indonesia di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah memulai persiapan produksi. Pada tahap awal ditargetkan 5 juta dosis vaksin primer.

"Kami sudah mulai exercise untuk produksi, melalui pemberian sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) beberapa waktu lalu. Misalnya EUA dapat, kami bisa percepat produksi, tapi kalau belum dapat EUA, tahun depan kami rilis," ujarnya.

Baca juga: Indovac dan Inavac jadi nama vaksin COVID-19 buatan dalam negeri

Baca juga: SE terbaru Satgas wajibkan WNA masuk Indonesia divaksin lengkap