Prof Iris: Imunisasi pasif jadi terobosan baru bagi kelompok rentan

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI) Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI, FINASIM mengatakan imunisasi pasif yakni antibodi monoklonal menjadi terobosan baru bagi kelompok rentan guna mencegah terkena COVID-19.

Baca juga: Epidemiolog minta pemerintah perhatikan telemedisin kelompok rentan

Kelompok rentan yakni mereka dengan sistem imun lemah sehingga berisiko terkena infeksi yang lebih tinggi dibanding populasi sehat. Mereka ini termasuk lansia, orang dengan penyakit komorbid, pasien kanker yang menerima pengobatan kanker secara aktif, pasien yang menerima transplantasi organ dan mengkonsumsi obat immunosupresan yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh.

"Karena respons antibodi tidak sebaik normal. Kita langsung berikan antibodinya," ujar dia dalam webinar bertema “Pentingnya Perlindungan Khusus Pada Kelompok Rentan di Era Pandemi COVID-19”, Kamis.

Pada populasi kelompok rentan, secara umum terlihat efektivitasnya lebih rendah dibandingkan populasi sehat. Data menunjukkan, setelah bulan ketujuh setelah vaksinasi, efektivitas vaksin pada populasi rentan ditemukan kurang dari 70 persen. Bahkan setelah diberikan vaksin dosis ketiga, efektivitasnya tidak bisa menyamai populasi sehat.

Inilah alasan kelompok rentan tiga kali lebih berisiko dirawat inap dan berisiko membutuhkan perawatan yang lebih intensif di ICU. Selain itu, kemungkinan kematian pada populasi ini juga jauh lebih tinggi, yaitu sebesar dua kali lipat

Oleh karena itu, selain penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi hingga penguat, kelompok rentan memerlukan modalitas atau opsi lain seperti terapi imunisasi pasif dengan antibodi monoklonal.

Antibodi monoklonal merupakan suatu protein yang dibuat di laboratorium khusus dan bertindak seperti antibodi manusia pada umumnya pada sistem kekebalan tubuh. Ini berarti, sambung Prof Iris, tubuh tidak membentuk antibodi, tetapi antibodi spesifik dimasukkan ke dalam tubuh seseorang. Antibodi monoklonal (mAbs) terhadap SARS-CoV-2 menargetkan spike proteinnya sehingga menghambat virus masuk ke dalam sel dan yang tersedia saat ini yakni untuk varian Omicron.

"Bilamana sudah divaksinasi tetapi hasil kurang efektif karena pembentukan antibodi tidak optimal. Karena itu kami memikirkan mungkin imunisasi pasif bisa dikombinasi dengan cara membuat monoklonal antibodi," kata Prof Iris.

Sementara itu, pemberian antibodi monoklonal untuk mereka di luar kategori kelompok rentan tidak dilarang. Tetapi saat ini, lebih diutamakan pada kelompok rentan, karena pada populasi sehat hasil vaksinasinya baik, sehingga tidak membutuhkan tambahan.


Baca juga: Kemenko PMK: Booster kedua untuk lansia berikan perlindungan optimal

Baca juga: Epidemiolog: Vaksin COVID-19 cegah gejala berat pada kelompok rentan

Baca juga: Praktisi: Nakes rentan alami gangguan psikologis akibat COVID-19