Prof Wahyudin: Tangkap Calo Kenaikan Pangkat!

Laporan Wartawan Tribun Jabar

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Masih adanya praktik bisnis pengurusan kenaikan pangkat dari golongan IVA ke IVB, dinilai Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Profesor Wahyudin Zarkasyi tidak bisa ditolerir.

Mereka yang terbukti menjadi calo bisa dilaporkan ke polisi.

"Tangkap, laporkan ke polisi. Saya tanda tangan ribuan (kenaikan pangkat), sakit hati kalau ada seperti itu," katanya singkat saat ditemui pada acara Penyerahan Hibah Bina Lingkungan Bank Mandiri di Kantor Wilayah Bank Mandiri VI Jalan Soekarno Hatta, Rabu (12/9/2012).

Begitu pula Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung, Juhana mengecam kalau benar adanya percaloan dalam hal kenaikan pangkat di lingkungan pegawai negeri sipil (PNS). Apalagi kalau terjadi di dinas yang dibawahinya.

Menurut dia, guru sudah ditetapkan untuk menjadi profesional. Untuk naik pangkat dari IVA ke IVB tidak mudah, karena harus memiliki persyaratan tertentu, seperti menulis karya ilmiah.

"Kalau yang saya pahami, itu orang yang memberikan fasilitas dengan mendampingi pembuatan karya ilmiah. Dan itu ada biayanya," kata Juhana ketika ditemui di Soreang, kemarin siang.

Dia menambahkan, kedudukan calo merupakan jasa, bisa dipakai atau tidak. Kalau cenderung untuk pendampingan untuk penulisan karya ilmiah dan tidak merugikan, dipersilakan saja.

"Kalau normatif bisa-bisa saja. Kalau tidak memenuhi syarat, artinya PNS yang bersangkutan belum bisa naik pangkat, ya salah. Saya akan melakukan kajian kalau ada praktik normatif. Tindakannya sendiri akan klarifikasi. Kalau ada yang tidak normatif atau merugikan, akan diselesaikan secara aturan," ujarnya.

Prosedur Berbelit-belit
Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Bandung, Iriyanto, mengatakan, bisnis pengurusan kenaikan pangkat dari golongan IVA ke IVB, di kalangan guru-guru di Kabupaten Bandung disinyalir juga terjadi di Kota Bandung.

Konon tarif yang dipasang oleh broker atau calo menurut guru yang telah menggunakan jalur tersebut lebih fantastis lagi, yaitu bisa mencapai Rp 7.000.000.

"Kalau sudah seperti ini yang terjadi maka sungguh memprihatinkan dunia pendidikan. Nilai-nilai kejujuran sudah mahal harganya, sehingga sebagian guru hanya berpikiran yang penting naik golongan, tanpa mempedulikan kebenaran dan keadilan," katanya, Rabu (12/9/2012).

Iriyanto juga mengatakan, bisnis pengurusan kenaikan pangkat dari golongan IVA ke IVB terjadi karena disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya para guru yang tidak terbiasa menulis atau yang tidak berkeinginan untuk belajar menulis dan meneliti pasti akan mengalami kesulitan dalam pembuatan PTK (Penelitian Tindakan Kelas).
Padahal PTK adalah salah satu syarat yang harus dimiliki.

Penyebab lainnya jual beli pangkat bisa terjadi karena peluang untuk berbuat curang terbuka lebar, karena dianggap sudah biasa dan dilakukan secara bersama-sama atau berjemaah, yaitu antara oknum guru dengan para pejabat/petugas dan calo.

Ketua Persatuan Guru Jawa Barat (PGRI), Edi Parmadi pun mengatakan hal senada. Beratnya syarat dan panjangnya proses birokrasi untuk mengikuti proses kenaikan pangkat dari golongan IV A ke golongan IV B menjadi alasan utama oknum atau kelompok tertentu melakukan percaloan terhadap guru.

"Tidak semua guru memiliki kompetensi yang mumpuni untuk mengikuti persyaratan naik pangkat dari golongan IV A ke golongan IV B. Sebab setiap guru harus melampirkan tiga rangkap karya tulis ilmiah atau penelitian tindakan kelas (PTK)," kata Edi.

BACA JUGA:

  • Pengakuan Mucikari Kakap: Pasok PSK Buat Pejabat Kalsel
  • Eks Bupati Banyuwangi Terancam Penjara Seumur Hidup
  • Dipolisikan karena Menikahi Siri Siswi SMA
  • Ganjar Pranowo Kembalikan Formulir Cagub Jawa Tengah
  • Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan di Baturraden
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.