Profil atlet Olimpiade: Mutiara-Melani, debut perdana pedayung muda

·Bacaan 5 menit

Mutiara Rahma Putri dan Melani Putri adalah pasangan atlet dayung putri andalan Indonesia yang lolos tampil di Olimpiade Tokyo yang dijadwalkan bergulir di Sea Forest Waterway, Jepang, 23-30 Juli 2021.

Keduanya masih relatif muda, Mutiara baru berusia 17 tahun, sementara Melani berusia 22 tahun. Namun, pencapaian mereka luar biasa dengan tampil di Olimpiade Tokyo.

Mutiara yang lahir di Jambi, 7 Juli 2004 memiliki sederet prestasi, seperti medali emas cabang olahraga dayung rowing kelas W1X (Women Single Scull) di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XV/2019 di Situ Cipule, Karawang, Jawa Barat.

Baca juga: Tim Dayung Indonesia matangkan persiapan jelang Olimpiade Tokyo

Pada ajang SEA Games 2019 yang diadakan di Filipina, Mutiara berhasil meraih perunggu cabang olahraga rowing kelas ringan satu pedayung.

Sementara Melani Putri yang kelahiran Karawang, 21 Juli 2000 juga telah mencicipi event-even olahraga, baik tingkat pelajar, Porprov (provinsi), PON (nasional), hingga kejuaraan tingkat Asia, yakni Asian Games.

Mahasiswi semester 4 Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) itu tak hanya sekedar berpartisipasi, tapi mampu mencatatkan prestasi, seperti menyumbangkan satu emas dan dua perunggu di PON 2016 dan dua emas Porprov Jabar 2018.

Putri bungsu dari pasangan Rusgan dan Emi itu juga pernah berpartisipasi di South East Asia Rowing Federation (SEARF) yang diselenggarakan di Vietnam pada 2017, serta berhasil mendapat perunggu di kelas Double Scull dan Single Scull.

Melani ikut pula berlomba di Asian Rowing Cup II di Korea tahun 2018 di kelas Quadruple yang mendapat perak, di Pekan Olahraga Daerah (Porda) 2018 juga mendapat medali emas, dan SEARF Thailand 2019 mendapat perunggu.

Melani mengenal olahraga dayung mulai 2014, diarahkan gurunya semasa SMA di Padalarang yang terus berlanjut hingga sekarang berkuliah di Fakultas Keguruan, dan Ilmu Pendidikan di Unsika.

Di Olimpiade Tokyo, Mutiara dan Melani akan berpartisipasi untuk pertama kalinya pada cabang olahraga rowing yang turun di nomor lightweight women double sculls (LWX2) atau dayung kelas ringan ganda.

Mutiara dan Melani mendapatkan tiket Olimpiade Tokyo setelah mengikuti kualifikasi Olimpiade Zona Asia atau Asian & Oceania Continental Qualification Regatta yang digelar di Sea Forest Waterway Jepang, awal Mei lalu.

Mereka finis posisi keempat dengan catatan waktu 7 menit 35,71 detik, sementara atlet tuan rumah Chiaki Tomita/Ayami Oishi tercatat finis tercepat dengan catatan waktu 7 menit 15,84 detik.

Di urutan kedua, pasangan Vietnam Thi Thao Luong/Thi Hao Dinh (7 menit 17,34 detik), disusul Zeinab Norouzi Tazeh Kand/Kimia Zarei dari Iran (7 menit 23,86 detik).

Baca juga: Tim dayung Indonesia terus asah kemampuan jelang Olimpiade Tokyo


Genjot latihan

Lolos berlaga di Olimpiade membuat kedua atlet terus menyiapkan diri agar mendapatkan hasil terbaik di turnamen multievent terbesar empat tahunan yang sempat tertunda setahun akibat pandemi COVID-19 tersebut.

Meski kondisi pandemi membuat mereka tak bisa berlatih di luar negeri, mereka merasa cukup puas menjalankan try out di dalam negeri saja, yakni di Pengalengan, Jawa Barat.

Mereka menyadari keterbatasan dan kesulitan yang harus dihadapi ketika harus berlatih di tengah suasana pandemi COVID-19.

Mutiara dan Melani pun terus mematangkan persiapan di Situ Cileunca, Pangalengan, Jawa Barat, sebelum bersaing di Olimpiade Tokyo.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Budiman Setiawan menegaskan Mutiara dan Melati dalam kondisi siap bertanding.

"Kedua atlet kini sudah mengurangi volume dan menambah intensitas latihan," kata Budiman.

Baca juga: Dayung Indonesia raih tiket Olimpiade Tokyo

Meski tim dayung Indonesia tak memberikan target khusus di Olimpiade Tokyo, Budiman berharap kedua atlet dapat tampil maksimal.

Apalagi, usia kedua atlet masih terbilang muda saat tampil di Olimpiade Tokyo sehingga mencatatkan pencapaian tersendiri yang luar biasa.

Untuk itu, Budiman berharap Mutiara dan Melani dapat memaksimalkan penampilan mereka, sekaligus menimba pengalaman di Olimpide Tokyo.

"Target kami adalah jangka panjang. Tak hanya di Olimpiade Tokyo, proyeksi kami juga Olimpiade 2028 dan 2032, khususnya saat Indonesia menjadi tuan rumah. Semoga mereka bisa terus fokus sebagai atlet," ujar Budiman.

Bagi cabang olahraga dayung, tampil di Olimpiade Tokyo menjadi kesempatan kali keempat Indonesia meloloskan atlet dayung ke Olimpiade.

Tim dayung Indonesia tampil pertama di Olimpiade pada 1992 dari nomor kano, kemudian Olimpiade 2004 pada nomor rowing dan kano, dan Olimpiade 2016 di nomor rowing.

Rencananya, Mutiara dan Melani akan bertolak ke Tokyo, akhir pekan ini, bersama kontingen Indonesia lainnya.

Baca juga: WRF tunggu KOI perihal keikutsertaan pedayung Indonesia di Olimpiade


Protokol latihan

Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pun memastikan atlet Indonesia untuk Olimpiade Tokyo tetap menjalani latihan dalam pelatnas masing-masing selama menjalani masa karantina di hotel menjelang keberangkatan ke Jepang.

Sebagaimana disampaikan Sekretaris Jenderal KOI Ferry J Kono, setiap atlet dari setiap cabang olahraga akan difasilitasi kendaraan dan sopir khusus yang akan mengantarkan mereka ke tempat latihan.

"Mereka tetap latihan di tempat latihan masing-masing, tapi mulai dari berangkat dari hotel itu interaksinya terbatas hanya atlet, pelatih, dan sopir," jelas Ferry.

Saat latihan, mereka juga harus dipisahkan dari teman-teman pelatnas yang lain sehingga tidak ada interaksi secara fisik dengan rekan pelatnas yang lain.

Beberapa atlet Merah Putih menuju Olimpiade Tokyo secara bertahap akan mulai memasuki hotel yang ditetapkan KOI sebagai tempat karantina sebelum bertolak ke Jepang pada 17 Juli mendatang.

Setiap atlet dan pelatih menempati masing-masing satu kamar hotel sebagai upaya KOI untuk mencegah risiko penularan COVID-19 selama karantina.

Baca juga: Pedayung rowing Indonesia membuka peluang lolos olimpiade

Sebelum memasuki hotel, para atlet dan pelatih harus terlebih dahulu menjalani dua kali tes swab PCR dengan hasil negatif sebagai syarat memasuki gelembung.

Selama karantina, para atlet harus menjalani tes swab PCR selama tujuh hari berturut-turut sesuai dengan aturan dari panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo (TOCOG).

Apalagi, Indonesia masuk kategori Grup I atau negara dengan risiko tinggi COVID-19 oleh Pemerintah Jepang.

KOI juga telah memfasilitasi satu mesin isothermal dan satu mesin PCR khusus untuk keperluan internal selama karantina di hotel.

"Jadi, mereka bisa kapan pun dites untuk kepentingan kami dan kepentingan laboratorium yang memang disyaratkan oleh Pemerintah Jepang," pungkasnya.

Penerbangan kontingen Indonesia dibagi dalam beberapa kelompok, yakni tim bulu tangkis yang berangkat lebih awal pada 8 Juli lalu, selanjutnya tim panahan, menembak, dayung, surfing, angkat besi, serta renang pada 17 Juli 2021, dan terakhir adalah atletik pada 24 Juli mendatang.

Baca juga: Delapan atlet dayung Indonesia bertekad rebut tiket olimpiade

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel