Profil dan Rekam Jejak Tri Rismaharini, Mensos Baru Hasil Reshuffle Kabinet Jokowi

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tri Rismaharini resmi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjadi Menteri Sosial.

"Yang pertama Ibu Tri Rismaharini, saya kira kita tahu semuanya. Beliau adalah Wali Kota Surabaya dan saat ini Bu Tri Rismaharini akan kita berikan tanggungjawab untuk menjadi Menteri Sosial," ujar Jokowi saat mengumumkan reshuffle kabinet di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (22/12/2020).

Reshuffle kabinet ini dilakukan Jokowi usai dua menterinya ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan Tri Rismaharini yang akrab disapa Risma, menduduki salah satu posisi tersebut.

Risma menggantikan Juliari Batubara yang kini ditahan KPK atas dugaan kasus korupsi bantuan sosial atau bansos Covid-19.

Lantas, siapakah sebenarnya sosok Risma? Berikut profil singkat Tri Rismaharini atau Risma yang dihimpun Liputan6.com dari berbagai sumber:

Riwayat Pendidikan

Reshuffle kabinet, Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin umumkan Tri Rismaharini jadi Menteri Sosial. (Youtube Sekretariat Presiden)
Reshuffle kabinet, Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin umumkan Tri Rismaharini jadi Menteri Sosial. (Youtube Sekretariat Presiden)

Tri Rismaharini lahir di Kediri, Jawa Timur pada 20 November 1961 silam. Saat ini usianya 59 tahun.

Wanita yang karib disapa Risma ini menempuh pendidikan pertamanya di Sekolah Dasar Negeri Kediri dan lulus pada 1973.

Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 10 Surabaya dan lulus pada 1976. Risma lalu menempuh pendidikan di SMA Negeri 5 Surabaya dan lulus pada 1980.

Dia berhasil menyelesaikan studi Sarjana di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengambil jurusan Arsitektur dan lulus pada 1987.

Tak puas, Risma melanjutkan pendidikan pascasarjana di kampus yang sama dengan mengambil jurusan Manajemen Pembangunan Kota dan lulus pada 2002.

Karier

Wali Kota Tri Rismaharini berbagi pengalaman menata Kota Surabaya kepada delegasi Konferensi Permukiman di Perkotaan antar-Negara PBB.
Wali Kota Tri Rismaharini berbagi pengalaman menata Kota Surabaya kepada delegasi Konferensi Permukiman di Perkotaan antar-Negara PBB.

Nama Risma saat menjadi Wali Kota Surabaya sudah sangat dikenal. Ia memimpin Kota Pahlawan itu selama dua periode atau 10 tahun.

Pada 28 September 2010-28 September 2015, Risma menjadi Wali Kota Surabaya di periode pertama. Kemudian ia kembali menjabat Wali Kota Surabaya untuk periode kedua pada masa bakti 2016-2021 bersama Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana.

Namun sebelum menjadi Wali Kota, Risma memang mengawali kariernya di Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Selama duduk di birokrat, ia pernah menduduki sebagai Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bappeko Surabaya pada 1997-2000.

Kemudian Risma menjabat sebagai Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Dinas Bangunan Kota Surabaya pada 15 Januari 2001-16 Januari 2002 dan Kepala Cabang Dinas Pertamanan pada 16 Januari 2002-2 September 2002.

Dia lalu menduduki posisi Kepala Bagian Bina Pembangunan pada 2 September 2002-1 Juni 2005 serta menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan pada 1 Juni 2005-25 November 2005.

Risma lalu menjabat posisi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya pada 25 November 2005-1 Januari 2008.

Terakhir, ia menduduki jabatan sebagai Kepala Bappeko Surabaya pada 1 Januari 2008-30 April 2010 sebelum akhirnya terpilih menjadi Wali Kota.

Ragam Prestasi Risma

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) hadiri pertunjukan kesenian bertajuk “Sawunggaling Anak Dunia”. (Foto:Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) hadiri pertunjukan kesenian bertajuk “Sawunggaling Anak Dunia”. (Foto:Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Saat menjadi Wali Kota Surabaya, Risma menjadi perempuan pertama yang berhasil menduduki posisi tersebut. Dia pun selalu menyita perhatian saat memimpin Kota Pahlawan itu.

Risma dikenal sebagai sosok yang tegas serta membawa Surabaya menjadi kota dengan taman yang indah. Bukan hanya taman, Risma juga berhasil menutup gang Dolly, sebuah kawasan prostitusi di Surabaya.

Dia juga memiliki ciri khas lugas dalam memimpin, tanpa pikir panjang, dan selalu terjun ke lapangan.

Berkat kerja kerasnya, Risma berhasil mengubah wajah Surabaya menjadi seindah dan sebersih saat ini. Risma juga dinilai sukses menjabat sebagai Wali Kota Surabaya selama dua periode.

Di bawah kepemimpinannya, Kota Surabaya berhasil meraih tujuh kali Piala Adipura secara berturut-turut sejak tahun 2011 sampai dengan 2017 dalam kategori kota metropolitan.

Piala Adipura diberikan untuk kota-kota di Indonesia yang berhasil menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan.

Pencapaian Risma dalam Piala Adipura ini memasuki puncaknya pada 2016 yang berhasil menyabet Adipura Paripurna.

Selain mewakili kota Surabaya, Risma tercatat beberapa kali mendapat penghargaan individu. Bahkan pada 2013, ia sempat masuk majalah Forbes dalam kategori 10 perempuan inspiratif di dunia.

Setahun setelahnya, Risma menyabet penghargaan Mayor of the Month sebagai Wali Kota Terbaik. Tak hanya itu, Risma juga pernah menyandang penghargaan Ideal Mother Awards dari Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO) di tahun 2016.

Pada 2014 Tri Rismaharini pernah mendaptkan penghargaan bergengsi dari London Summit Leaders, dalam kategori Innovative City of the Future. Saat itu, Surabaya jadi satu-satunya kota perwakilan dari Indonesia.

Tri Rismaharini juga dikenal sebagai sosok yang tegas melawan tindakan korupsi. Berkat kerja kerasnya melawan korupsi, ia mendapatkan penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015.

Pada saat menjabat sebagai Kepala Bagian Bina Program Pembangunan Kota Surabaya, ia mengeluarkan terobosan e-procurement atau lelang pengadaan barang elektronik. Lelang tersebut berjalan secara transparan tanpa adanya gratifikasi.

Terakhir, Risma mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Tongmyong University, Busan, Korea Selatan belum lama ini.

Gelar kehormatan tersebut adalah bentuk penghargaan atas profesionalisme dan dedikasi Risma dalam bidang aristektur.

Gelar Doktor Honoris Causa ini merupakan kedua kalinya didapatkan dari kampus berbeda. Sebelumnya gelar Doktor Honoris Causa diberikan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pada 2015.

Saksikan video pilihan di bawah ini: