Profil Indra Rudiansyah, Anak Bangsa di Balik Vaksin AstraZeneca

·Bacaan 2 menit

VIVA – Sepuluh jam menghabiskan waktu di laboratorium menjadi makanan sehari-hari bagi Indra Rudiansyah dalam setahun terakhir. Mahasiswa S3 jurusan Clinical Medicine itu kini sedang menempuh ilmu di Universitas Oxford. Dia juga menjadi bagian dari tim di Jenner Institute yang bekerja keras membuat vaksin AztraZeneca bikinan Oxford itu.

Kini AstraZeneca sudah digunakan banyak orang di dunia termasuk di Indonesia untuk menekan penularan virus Corona COVID-19 yang tengah mewabah.

Indra Rudiansyah merupakan mahasiswa doktoral penerima beasiswa LPDP sebagaimana dikutip dari akun Facebook resmi LPDP. Indra sebelumnya menempuh ilmu dengan gelar S1 Mikrobiologi dan S2 Bioteknologi di ITB dan lulus dengan predikat cum laude. Kemudian dia menjadi tim peneliti di Jenner Institute bergabung dalam tim yang dipimpin Sarah Gilbert, profesor tim peneliti AstraZeneca.

Beberapa waktu lalu Sarah Gilbert dan tim menjadi sosok yang mendapatkan tepukan meriah di event Wimbledon lantaran dia menyerahkan hak paten vaksin AstraZeneca kepada publik sehingga vaksin itu lebih mudah dan murah untuk diproduksi demi penanganan pandemi global.

Pembuatan vaksin sendiri sejatinya butuh waktu 5 tahun namun karena keperluan mendesak, peneliti bekerja keras mewujudkan vaksin COVID-19 itu dalam waktu 6 bulan. Setelah disetujui WHO dan uji klinis maka didistribusikan.

Sementara Indra sendiri adalah satu-satunya orang Indonesia dalam tim pembuat vaksin AstraZeneca itu. Dia mahasiswa tahun ketiga yang masuk dalam peneliti Jenner Institute. Dia banyak melakukan riset dalam vaksin untuk penyakit pandemik. Indra diketahui menempuh pendidikan di Oxford program Clinical Medicine.

Di Oxford, dia fokus pada pengembangan vaksin Malaria hingga kondisi pandemi membuat dia dan tim penelitinya harus meneliti hingga bisa mewujudkan vaksin COVID-19 karena dunia tengah ditimpa wabah Corona. Indra berperan penting dalam menganalisis data respons tubuh para relawan vaksin. Dia bergabung awal Mei 2020. Sementara ratusan peneliti bergabung agar vaksin bisa dihasilkan lebih cepat.

"Biasanya uji klinis vaksin pertama butuh waktu 5 tahun tapi tim ini bisa menyelesaikan dalam waktu 6 bulan," dikutip dari laman LPDP.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel