Profil Kapolri Baru Jenderal Sutarman  

TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini, Jumat, 25 Oktober 2013, Jenderal Sutarman akan memulai hari pertamanya sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Menggantikan Jenderal Timur Pradopo, Sutarman diharapkan bisa menegakkan independensi polisi dan membawa biduk organisasinya selamat melalui tahun politik 2014 mendatang.

Sutarman sendiri lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 5 Oktober 1957. Sebelum menjadi Kapolri, Sutarman adalah Kepala Badan Reserse Kriminal pengganti Ito Sumardi, yang pensiun pada Juni 2011.

Kariernya di Kepolisian dimulai pada 1982, sebagai Kepala Staf Lalu Lintas Kepolisian Resor Bandung. Tak lama di situ, Sutarman naik menjadi Kepala Kepolisian Sektor Dayeuh, Bandung.

Karier lulusan Akademi Kepolisian tahun 1981 ini melejit setelah menjadi ajudan Presiden Abdurrahman Wahid pada 2000. Memikul pangkat perwira menengah di pundaknya, pada 2004 Sutarman dipercaya menjadi Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya.

Kemudian berturut-turut ia menjadi Kapolda Kepulauan Riau, Kepala Sekolah Calon Perwira, Kapolda Jawa Barat, Kapolda Metro Jaya, sampai akhirnya menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal Polri sejak 6 Juli 2011.

Meski kariernya lengkap, jalan Sutarman juga penuh sandungan. Ia sempat dikabarkan menentang bahkan menghambat penyidikan kasus simulator kemudi yang melibatkan mantan Kepala Korps Lalu Lintas Mabes Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo. Ia juga dituding sebagai dalang kriminalisasi penyidik KPK, Novel Baswedan.

NURUL MAHMUDAH | TIM TEMPO

Topik Terhangat:

Sultan Mantu | Misteri Bunda Putri | Gatot Tersangka | Suap Akil Mochtar | Dinasti Banten

Berita Terpopuler:

Mitos di KPK, Tahanan Punya Istri Lebih dari Satu? 

Pengacara Tak Tahu Suami Airin Punya Wanita Lain 

Seks Oral di Kantin Sekolah, Dua Pelajar Dihukum 

Menteri Gamawan: FPI Aset yang Perlu Dipelihara 

Ruhut: Katanya Ormas Budaya, PPI Kok Ngomong Gosip  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.