Profil Markis Kido, Penyelamat Muka Indonesia di Olimpiade 2008

·Bacaan 3 menit

VIVA – Indonesia baru saja kehilangan salah satu putra terbaiknya. Legenda bulutangkis Tanah Air, Markis Kido, dilaporkan meninggal dunia, Senin malam 14 Juni 2021.

Info ini diketahui pertama kali dari akun media sosial Yuni Kartika, @yuni.kartika73. Tak lama kemudian, akun media sosial resmi PBSI pun ikut mengumumkan wafatnya Markis Kido.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia salah satu pahlawan bulutangkis Indonesia, peraih emas Olimpiade Beijing 2008, Markis Kido," demikian keterangan dari @INABadminton.

"Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Selamat jalan Kido!" lanjut keterangan tersebut.

Setelah dikonfirmasi, Kido dinyatakan wafat ketika sedang bermain bulutangkis di GOR Petrolin, Alam Sutera, Tangerang. Menurut Candra Wijaya, mantan pemain yang hadir di arena, Kido tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri saat baru bermain setengah gim. Saat itu sekitar jam 18.30 WIB.

"Saya duduk di pinggir lapangan melihat Kido terjatuh. Dan saya lari menolong. Dia tidak sadarkan diri dan mengorok," tutur Candra, yang kemudian membawa Kido ke RS Omni di Alam Sutra, Tangerang, dalam rilis PBSI yang diterima VIVA.

Diketahui, Kido meninggalkan seorang istri, Richasari Pawestri dan dua orang putri.

Semasa hidup, pria kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1984 itu merupakan pebulutangkis berprestasi yang kerap kali mengharumkan nama bangsa Indonesia lewat nomor ganda putra dan ganda campuran.

Dikutip berbagai sumber, Kido memulai langkahnya di Kejuaraan Asia Junior pada tahun 2000 silam. Di situ, dia meraih medali perunggu bersama Rian Sukmawan dari nomor ganda putra dan medali emas bersama Liliyana Natsir di sektor ganda campuran.

Kido juga menyabet medali perunggu di Kejuaraan Dunia Junior di tahun yang sama. Namun, berpasangan dengan Hendra Aprida Gunawan di sektor ganda putra.

Dua tahun berselang, masih dari Kejuaraan Dunia Junior, Kido kembali mendapatkan medali perunggu berpasangan dengan Liliyana Natsir.

Barulah pada 2003, Kido terjun ke level senior dan langsung dipasangkan dengan Hendra Setiawan. Bersama Hendra, Kido merasakan puncak kariernya.

Bagaimana tidak, prestasinya melesat jauh ketika dipasangkan dengan Hendra. Dia sempat dua kali meraih medali emas Kejuaraan Asia 2005 dan 2009, medali emas Piala Dunia Badminton 2006, medali emas Kejuaraan Dunia BWF 2007, dan tiga kali merebut medali emas SEA Games, 2005, 2007, dan 2009.

Prestasi tertinggi ditorehkannya pada Olimpiade 2008 Beijing. Kido dan Hendra membawa pulang medali emas ke Tanah Air setelah menumbangkan ganda putra China, Cai Yun/Fu Haifeng.

Keberhasilan mereka menyelamatkan muka Indonesia di pesta olahraga terakbar sedunia edisi ke-29 tersebut. Sebab, itu jadi satu-satunya medali emas yang didapatkan kontingen Merah Putih di Olimpiade 2008.

Berkat satu medali emas, Indonesia bercokol di posisi 40 bersama dengan Azerbaijan yang sama-sama mengoleksi satu medali emas, satu medali perak, dan empat medali perunggu.

Dua tahun berselang, Kido kembali meraih medali emas dari ajang Asian Games 2010 di China.

Pria 36 tahun itu juga melengkapi torehannya dengan 10 gelar BWF Superseries dan BWF Grand Prix.

Kido berpisah dengan Hendra pada 2012. Dia sempat melanjutkan kariernya bersama Marcus Fernaldi Gideon di ganda putra dan sang adik, Pia Zebadiah Bernadet, di nomor ganda campuran.

Selamat jalan legenda. Dirimu akan selalu dikenang sebagai salah satu pahlawan bangsa!

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel