Profil Ricky Yacobi, Sang Maestro Lini Depan Timnas Indonesia

Yudhi Maulana
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kabar duka menyelimuti sepakbola Indonesia, striker legendaris Timnas Indonesia, Ricky Yacobi menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu 21 November 2020. Melalui pesan berantai dari grup whatsapp pewarta olahraga, kabar duka ini sampai.

Ricky wafat sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu dia sedang bermain sepakbola, dalam event mini trofi Medan Selection di Lapangan ABC, Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Dia tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri usai mencetak gol. Rekan-rekannya bertindak cepat dengan melarikan pria kelahiran Medan ini ke Rumah Sakit Al Mintohardjo, Bendungan Hilir. Sayang, nyawanya tidak dapat ditolong.

Publik sepakbola tanah air dipastikan sangat kehilangan sosok Ricky. Dan berikut Viva merangkum soal profil lengkap sang legenda.

Ricky Yacob yang dikenal sebagai Ricky Yacobi lahir di Medan pada 12 Maret 1963. Ricky adalah bomber garang di medio 80 hingga 90an. Di timnas khususnya, Ricky adalah dewa lini depan.

Namanya mulai harum ketika masuk dalam skuad Asian Games 1986 di bawah asuhan Bertje Matulapelwa. Performanya sukses membawa Indonesia menuju semifinal.

Setelah itu namanya kian dipercaya mengisi skuad utama tim Merah Putih bahkan mengemban tugas sebagai kapten hingga periode 1990. Pencapaian membanggakan ketika dia membawa medali emas untuk Indonesia di ajang SEA Games 1987.

Kariernya makin melambung, salah satu klub Jepang, Matsushita merekrutnya tahun 1988 tapi karena adaptasi yang tidak begitu baik kariernya tidak berjalan mulus. Dan setelah kembali ke Indonesia namanya lebih dikenal dengan Yacobi, huruf I ditambahkan setelah berkarier di negeri Matahari Terbit tersebut. Di Jepang, rekan-rekannya lebih suka menyebutnya dengan Yacobi.

Sejumlah klub tanah air juga pernah dibelanya ada PSMS Medan, Arseto Solo, BPD Banten hingga PSIS Semarang pernah merasakan jasa sang bomber. Ketajaman membobol gawang lawan terbukti dengan menjadikannya sebagai top scorer Galatama sebanyak dua kali yaitu 1987 dan 1990.

Ricky kemudian memilih gantung sepatu di tahun 1996. Sepakbola tidak kemudian langsung ditinggalkan, ada Sekolah Sepakbola (SSB) yang dikembangkan yang bernama persis seperti namanya.

Kini tidak ada lagi teriakannya di pinggir lapangan dalam mengasuh talenta-talenta muda. Prestasinya tinggal kenangan dan namanya akan selalu harum mengantarkan jasadnya menuju peristirahatan terakhir. Selamat jalan legenda!