Profil Ustaz Tengku Zulkarnain, Ditolak Warga Dayak dan Ikut Aksi 212

·Bacaan 2 menit

VIVAInna lillahi wa inna ilaihi raji'un, kabar duka datang dari ustaz Tengku Zulkarnain. Almarhum ustaz Tengku Zulkarnain meninggal dunia Senin 10 Mei 2021 atau dua hari jelang Lebaran Idul Fitri. Beliau meninggal setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Riau karena terpapar virus COVID-19.

Ketua PA 212 Slamet Maarif saat dikonfirmasi VIVA membenarkan kabar duka tersebut.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah meninggal dunia KH Teungku Zulkarnain jam 18.40," ujar Slamet saat dikonfirmasi VIVA, Senin, 10 Mei 2021.

Slamet mengatakan, atas nama pribadi dan segenap alumni 212 sangat merasa kehilangan dan duka cita mendalam atas kepergian ustaz Tengku Zulkarnain.

"Beliau sosok yang teguh pendirian dan istiqomah dalam berdakwah, tegas dan berani dalam membela pendiriannya. Hari-hari beliau diisi dengan dakwah islamiyyah. Saya bersaksi beliau orang baik dan tulus dalam berdakwah," ujar Slamet.

Dikutip VIVA dari berbagai sumber, semasa hidup dia pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, 2015-2020.

Tengku Zulkarnain lahir di Medan, Sumatra Utara, 14 Agustus 1963 yang saat ini berumur 57 tahun. Dia adalah seorang ustaz berdarah Melayu Deli dan Riau.

Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Sumatra Utara, Jurusan Sastra Inggris. Selain di MUI, Ustaz Tengku juga aktif sebagai Ketua Majelis Fatwa untuk PP Mathla'ul Anwar, sebuah organisasi berfokus pada pendidikan Islam.

Ia pernah menulis buku Salah Faham: jawaban atas buku rapot merah Aa' Gym. Dalam pendidikan Agama Islam, ia belajar ilmu fiqih dari gurunya bernama Syaikh Dahlan Musa (Fiqih) dan ilmu Alquran dari Syaikh Azro'i Abdul Rauf. Ia memiliki seorang istri dan dua putri

Diketahui, pada 2017, ia sempat ditolak warga Dayak Sintang saat berkunjung ke Kalimantan. Ia juga sempat ikut serta dalam Aksi Bela Islam serta aksi-aksi yang dilakukan alumni 212 pada masa setelahnya.

Saat pemilihan Presiden 2019 lalu, ia tercatat sebagai salah satu pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pada Agustus 2019, ia menuai sorotan karena menyebut letak calon ibukota Indonesia yang baru yang terletak di Kalimantan Timur berada di garis lurus dengan Beijing, ibukota Republik Rakyat Tiongkok, dan berpendapat bahwa letak ibukota tersebut dapat dengan mudah dijangkau dengan rudal. Namun dibantah hal itu dibantah oleh panglima TNI Moeldoko menyatakan bahwa rudal saat ini tidak lagi memiliki target garis lurus.

Baca juga: 11 Mata Elang Ditangkap Gara-gara Rampas Mobil TNI Serda Nurhadi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel