Program Work From Bali Ditargetkan Tereksekusi di Kuartal III 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sejak diluncurkan Menteri Kooordinator Maritim dan Investasi (Menkomarves) pada 19 Mei 2021, kebijakan Work From Bali masih juga dibahas. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengaku perumusan kebijakan itu masih digodok bersama kementerian/lembaga terkait.

"Semoga kebijakan ini bisa dieksekusi yang tidak membebani anggaran negara, tetapi tetap berpihak kepada saudara-saudara kita di Bali," kata Sandiaga dalam Press Weekly Briefing, Rabu (2/6/2021).

Dia menargetkan kebijakan Work From Bali tersebut bisa difinalisasi pada kuartal ketiga. Ia berharap program tersebut akan mempercepat pemulihan ekonomi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali.

Merujuk data BPS terkait Perkembangan Pariwisata Provinsi Bali pada Februari 2021, tingkat keterhunian kamar hotel bintang pada Februari 2021 mencapai 8,99 persen. Rata-rata lama menginap pada Februari 2021 untuk hotel bintang adalah 2,67 hari, sedangkan untuk hotel non-bintang rata-rata 1,89 hari.

"Kita harapkan angkat keterhunian hotel dari di bawah 10 persen bisa menjadi 30 persen dengan program Work From Bali...Namun, ini hanya pemicu. Kita ingin pentaheliks lain terlibat, dunia pendidikan, dunia usaha, dan tak kalah penting masyarakat luas," ujar Sandiaga.

Sebelumnya, Sandi menyinggung sekitar 25 persen ASN akan melakukan Work From Bali. Dengan begitu, berarti ada sekitar 25 persen hunian hotel yang akan terisi di wilayah Nusa Dua ketika program ini diluncurkan.

"Pemilihan Nusa Dua karena daerah tersebut telah ditetapkan sebagai green zone oleh pemerintah setempat," sambung dia.

Dia juga meminta agar pelaku UMKM di Bali juga bersiap menerima kehadiran para turis domestik yang akan melakukan Work From Bali, khususnya yang berkiprah di sektor kuliner, kriya, dan fesyen. "WFB itu mungkin 30 persen berdampak terhadap hotel, sisanya terhadap kuliner, termasuk restoran," imbuh Sandiaga.

Konsep Sandbox

Pantai Kuta, Bali. (Bola.com/Pixabay)
Pantai Kuta, Bali. (Bola.com/Pixabay)

Di sisi lain, Sandiaga juga mencermati perkembangan kasus Covid-19 pasca-libur lebaran. Ia mengaku telah diperingatkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi tentang krusialnya bulan Juni.

"Bulan Juni adalah bulan yang sangat krusial. Boleh dikatakan harus dipantau secara ketat karena ada antisipasi lonjakan dari penurunan Covid-19," ucapnya.

Ia mengaku pihaknya sudah menyiapkan konsep sandbox. Konsep itu akan berlaku seperti circuit breaker. "Kita dengan cepat dan tegas akan menutup destinasi wisata dan sentra ekonomi kreatif begitu ada lonjakan kasus Covid-19," dia menerangkan.

Sandiaga menambahkan sejak Juli 2020, Indonesia sudah bergabung dengan Safe Travel. Hal itu harus dilakukan agar wisatawan merasa aman saat berwisata. Meski perbatasan belum dibuka untuk turis asing, ia mengklaim minat untuk berkunjung ke Indonesia, khususnya Bali, cukup tinggi.

"Bisa dilihat dari Dubai Arabian Travel Market, minat ke Bali sangat tinggi," kata dia. Sejauh ini, pemerintah masih yakin bisa menguji coba rencana pembukaan travel corridor arrangement (TCA) di kuartal III, yakni Juli 2021.

Pariwisata Usai Setahun Pandemi Covid-19

Infografis . Setahun Pandemi Covid-19, Pariwisata Dunia dan Indonesia Terpuruk
Infografis . Setahun Pandemi Covid-19, Pariwisata Dunia dan Indonesia Terpuruk

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel