Program mubaligh hinterland jangkau masyarakat pulau terluar

Sudah dua bulan terakhir ini Odirman Hareva, pemuda berusia 25 tahun asal Pulau Nias, Sumatera Utara menjalankan tugasnya sebagai mubaligh di Desa Pengikik, yaitu desa yang berjarak tempuh sekitar sembilan jam perjalanan laut dari pusat Kecamatan Tambelan.

Kecamatan Tambelan sendiri adalah sebuah kecamatan/pulau terluar dari sepuluh kecamatan yang ada di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Secara geografis Kecamatan ini berdekatan dengan Pontianak, Kalimantan Barat. Tambelan berjarak tempuh minimal 8-10 jam perjalanan laut dari pusa Ibukota Provinsi Kepri, Kota Tanjungpinang.

Namun, jauhnya jarak tempat ia ia ditugaskan, tidak menghalangi niat Odirman Hareva menjalankan tugasnya sebagai Da'i. Ini tidak lain karena warga di sana (Desa Pengikik) sangat membutuhkan keberadaan ustadz.

Sudah tiga tahun Desa Pengikik tidak memiliki orang yang mengajarkan pendidikan agama. Sehingga khawatir anak-anak di kawasan pelosok atau hinterland itu tidak tersentuh dengan pendidikan agama.

Selama dua bulan bertugas, Odirman Hareva telah cukup banyak aktivitas yang telah dilakukan. Di desa itu, dia bersosialisasi dengan masyarakat setempat, memberikan pemahaman pentingnya pendidikan agama bagi setiap keluarga.

Di sana ia juga mengajarkan anak-anak mengaji, serta ilmu fiqih, salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang menjadi pedoman menjalankan aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah SWT.

Serupa dengannya, dai lainnya Ustadz Zaki juga melaksanakan aktivitas pendidikan agama Islam sebagaimana dilakukan Odirman Hareva.

Dia yang juga sudah dua bulan berupaya meningkatkan akhlak warga di Desa Pengukup, Kecamatan Tambelan. Di desa ini ia mengajarkan anak-anak mengaji, ilmu fiqih dan juga mengajak warga di sana untuk meningkatkan ibadah.

Di desa ini Ustadz Zaki disambut dan diterima warga dengan baik. Pemuda asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat ini menyatakan jika warga setempat menginginkan agar Program "Mubaligh Hinterland" yang digagas Gubernur Provinsi Kepri Ansar Ahmad ini terus berlanjut.

Hal itu juga dikarenakan permasalahan yang ada di Desa Pengukup cukup banyak untuk dipecahkan sehingga membutuhkan waktu yang tidak cukup hanya satu tahun.

Mayoritas penduduk khususnya di Desa Pengikik Tambelan yang bermata pencarian sebagai nelayan, mengakibatkan anak-anak yang ada di desa itu cenderung turut mengesampingkan pendidikan, khususnya pendidikan agama.

Anak-anak di desa di pulau terpencil itu cenderung mengikuti kebiasaan orang tuanya, disibukkan dengan mencari ikan di laut. Mereka (orang tua) makin khawatir jika waktu mereka untuk keluarga sangat terbatas.

Para orangtua risau karena tidak cukup waktu memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Ibarat hujan, kehadiran mubaligh di Desa Pengikik adalah apa yang diharapkan oleh warga setempat.

Salah seorang warga Pengikik, Suhardi (36 tahun) menyatakan kebahagiaannya. Ia berharap program Gubernur Ansar Ahmad ini dapat terus berlanjut.

Ia mengharap anak-anak di Desa Pengikik mendapat pendidikan agama, sama halnya dengan anak-anak di daerah lain yang mudah dijangkau.

Warga menginginkan anak-anak mereka setara dengan anak-anak di tempat lain.

Baca juga: ACT sebarkan 79 dai ke pelosok Indonesia

Baca juga: Universitas Muhammadiyah Mataram kirim dai ke pelosok Lombok


Menjaga akidah

Saat berkunjung ke Kecamatan Tambelan, Sabtu (7/5), Gubernur Ansar Ahmad kembali menekankan pentingnya menempatkan D'ai di kawasan hinterland.

Upaya ini untuk menjaga akidah masyarakat di antaranya diakibatkan minimnya pengetahuan agama serta permasalahan ekonomi yang tidak jarang mengakibatkan warga depresi dan putus asa.

Ansar cukup banyak mendapati berita mengenai peristiwa yang sangat miris belakangan ini diakibatkan minimnya dasar agama dan terpuruknya ekonomi. Hal inilah yang kemudian mendasari mantan Bupati Bintan dua periode ini membuat Program Mubaligh Hinterland.

Untuk tahun ini, sebanyak 50 mubaligh ditempatkan di daerah perbatasan dan pulau-pulau terpencil di Provinsi Kepri. Para mubaligh ini diikat dengan kontrak untuk menjaga akidah masyarakat di wilayah terpencil.

Pemprov Kepri mengalokasikan anggaran Rp3 miliar untuk kebutuhan 50 juru dakwah ke pulau-pulau selama setahun penuh. Anggaran itu dialokasikan pada tahun 2022.

Program ini diharapkan mampu mendorong iman masyarakat di kawasan terpencil agar tidak goyah dalam segala situasi, terutama di tengah situasi sulit seperti pandemi saat ini.

Selain bertugas memperkuat keimanan dan mental masyarakat, Da'i yang ditempatkan di kawasan terpencil ini juga ditugaskan mendata masjid atau mushala yang kondisinya dianggap kurang layak. Gubernur juga fokus pada pembenahan masjid di pulau-pulau terpencil supaya masyarakat bisa beribadah dengan baik dan nyaman.

Di sisi lain, para mubaligh juga diberikan pembekalan kewirausahaan agar bisa sekaligus memberikan pengajaran tentang kewirausahaan pada masyarakat terluar.

Dengan demikian, Da'i tidak hanya berdakwah namun bisa mengajak masyarakat untuk membuat usaha-usaha mikro.

Para mubaligh turut berperan memberikan wawasan keagamaan sekaligus kebangsaan pada masyarakat pulau-pulau terluar agar sama-sama merasa punya tanggung jawab menjaga keutuhan negara ini hingga menjaga toleransi agama.

Bagi Ansar Program Mubaligh Hinterland ini bukanlah barang baru. Program serupa telah dijalankan ketika dirinya masih menjabat sebagai Bupati Bintan.

Kehadiran mubaligh di tengah-tengah masyarakat dalam mensyiarkan dakwah, menjadi bagian penting dalam mewujudkan generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia.

Harapannya juru dakwah dapat menjadi penjaga persatuan dan kerukunan nasional serta menciptakan umat Islam yang berkualitas dan berkarakter Islam rahmatan lil alamin.*

Baca juga: Baznas Agam latih dai untuk daerah pelosok

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel