Program Pemerintah Untuk Properti Saat Pandemi Tak Terasa

RumahCom – Kalangan pengembang menilai regulasi maupun relaksasi yang dikeluarkan pemerintah untuk sektor properti saat pandemi ini belum mampu menggerakan pasar. Pemerintah seharusnya bisa memberikan gebrakan dari sisi aturan supaya properti bisa lebih bergerak dann diikuti industri ikutannya.

Sektor properti merupakan salah satu lini bisnis yang paling terdampak saat wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) melanda Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu. Pemerintah menyebut telah mengeluarkan berbagai regulasi dan relaksasi untuk mengurangi dampak buruk yang terjadi pada sektor properti.

Properti menjadi perhatian karena bidang ini merupakan sektor riil dan padat modal terlebih ada lebih dari 170 industri terkait yang berada di belakang bisnis properti mulai industri bahan bangunan, furnitur, perangkat elektronik, jasa arsitek dan desain, hingga pernak-pernik lainnya. Sektor properti yang terus melemah artinya membuat ratusan industri di belakangnya ikut melemah.

Beberapa regulasi yang dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi dampak buruk pada sektor ini antara lain relaksasi bunga bank termasuk cicilan KPR khususnya untuk rumah di bawah tipe 70 meter persego. Menurut Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Totok Lusida, relaksasi yang diberikan pemerintah belum terasa pada sektor properti dan belum menyentuh pada pelaku langsung yaitu kalangan pengembang.

“Mayoritas pengembang anggota REI itu membangun rumah segmen menengah bawah untuk masyarakat kecil, akibat wabah ini penjualannya berhenti tapi kredit maupun bunga konstruksi dan biaya-biaya lain jalan terus. Ini kalau tidak diberikan kebijakan khusus seperti penundaan pembayaran pokok, pengurangan bunga, atau apapun bisa tutup perusahaannya. Kalau tutup kreditnya malah tidak bisa dibayar dan terjadi kredit macet yang dampaknya akan lebih besar untuk perekonomian,” ujarnya.

Rumah bisa memberikan kenyamanan yang tak bisa diungkapkan. Terus apa sih enaknya punya rumah sendiri? Simak selengkapnya di video berikut ini.

CEO Triniti Land Ishak Chandra menambahkan, beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait dampak pandemi ini belum terasa atau belum berdampak besar terhadap properti. Mestinya pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang out of the box karena situasinya juga sangat khusus.

“Kebijakan subsidi bunga KPR itu dampaknya tidak terlalu besar untuk mendorong pasar properti saat situasii wabah ini. Perlu ada gebrakan dengan kebijakan yang bisa mendorong pasar properti untuk jangka waktu hingga setahun ke depan, misalnya dengan membebaskan berbagai pajaknya dulu seperti PPN, BPHTB, dan PPH sehingga kalangan konsumen investor yang selama ini wait and see bisa kembali masuk ke pasar dan membuat situasi pasar lebih bergerak lagi,” bebernya.

Rata-rata penjualan produk properti dari kalangan pengembang mengalami penurunan mencapai 50 persen dan penagihan (collection) untuk konsumen yang sudah membeli pun melambat. Hal ini tentunya mengganggu cashflow pengembang dan dipastikan pengembang-pengembang kecil tidak akan bisa bertahan lama dengan situasi seperti ini.

“Kondisi sekarang ini berat untuk semuanya baik untuk developer maupun masyarakat. Konsumen yang membeli dengan pembiayaan bank banyak yang mengajukan relaksasi kreditnya dan bank juga semakin sulit untuk menyalurkan pembiayaan KPR saat wabah ini. Jadi diperlukan gebrakan melalui regulasi dari pemerintah,” pungkas Ishak.

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.