Protes PPKM Darurat, Kafe di Malang Pasang Harga Lebih Mahal untuk Satpol PP

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Pengusaha kafe di Malang menunjukkan protes terhadap PPKM darurat dengan memberikan harga lebih mahal dari biasanya untuk petugas yang bisa melakukan razia PPKM, yaitu TNI/Polri dan Satpol PP.

"Kalau buat promo kayak teman-teman ngasih diskon itu susah. Dan kita gak ada budget buat itu. Sudah habis. Akhirnya mikir-mikir ya promo gak harus potong harga. Kita naikkan. Kan banyak ekonominya susah dan ngomongin bansos segala macem. Aku mikir promo harga tiga kali dari normal buat aparat dan pegawai pemerintah," ujar Cahya Sinda, pemilik Atitud Coffee Malang, Jumat (16/7/2021), dikutip dari TimesIndonesia.

Dalam daftar harga Kafe yang terletak di Ruko Sunan Kalijaga, Jalan Sunan Kalijaga, Kota Malang itu, TNI/Polisi/Satpol PP/PNS yang pesan di kafe tersebut wajib membayar tiga kali lipat dari harga normal.

Cahya mengungkapkan, dirinya menerapkan promo tiga kali lipat tersebut, sebagai bentuk protes terkait peraturan PPKM Darurat.

Apalagi, para aparat dan pegawai pemerintah, ekonominya cenderung baik-baik saja dan stabil dalam kondisi apapun. Hal itu sangat timpang dengan pelaku usaha kecil seperti dirinya. Apalagi kafe tersebut juga baru saja buka dan langsung diwajibkan take away.

"Orang tua saya sendiri juga PNS. Terus kakak itu Nakes. Mereka punya penghasilan tetap. Ekonomi mereka stabil. Sementara kalau aku bagaimana. Jadinya sekalian itu minta bansos UMKM itu diubah diksinya jadi ngasih promo tiga kali harga normal," ungkapnya.

Pasrah

Kekecewaan Cahya terkait PPKM karena merasa ada ketidakadilan karena harus tutup jam 8 malam dan dilarang dine in. Apalagi menurutnya penerapan saat ini hanyalah sebuah diksi. Seperti halnya Lockdown, PSBB dan akhirnya berubah menjadi PPKM Darurat.

"Tanggal 12 lalu kita juga kena grebeg. Itu teguran aja. Susahnya minta ampun. Orang sepi gak ada pengunjung juga. Dapat tiga hari buka PPKM. Semua rencana awal modal berantakan," keluhnya.

Cahya sempat pasrah dan mencoba tetap berjuang bersama tim Atitud Coffee.

"Setiap hari per cup itu cuma bisa dihitung jari. Ini kita mau disuruh full take away. Kita mau nyiapain take away gimana, belum ada yang tahu kafe kita. Paling cuma teman-teman yang punya ruko saja," ucapnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel