Protokol Kesehatan Tidak Cuma Berlaku untuk Cegah Covid-19, Ini Penjelasannya

Merdeka.com - Merdeka.com - Badan Kesehatan Dunia atau WHO merupakan satu satunya lembaga yang memiliki hak untuk menentukan perubahan terkait status pandemi Covid-19. Praktisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Ede Surya Darmawan menuturkan, status pandemi di Tanah Air belum dicabut meski kasus Covid-19 di sejumlah wilayah melandai.

Data WHO menyebutkan rata–rata kasus harian Covid-19 di dunia berkisar pada 560 ribu, dan kasus meninggal 1.600. Menurutnya terdapat perilaku yang harus didorong guna mengantisipasi buruknya kondisi.

"Sebenarnya yang perlu kita lakukan, kalau untuk Covid itu menerapkan protokol kesehatan 3M ya memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Nah yang sebenarnya juga harus kita dorong adalah protokol hidup sehat, untuk selalu hidup bersih kapan pun dan di manapun," kata Ede, Kamis (8/9).

Pernyataan itu dia ungkapkan dalam virtual talkshow bersama yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Lanjut Ede, dorongan untuk melakukan protokol hidup sehat harus dilakukan tidak hanya pada situasi pandemi Covid-19, tetapi juga pada kasus–kasus penyakit lain seperti HIV. Protokol hidup sehat memang wajib dilaksanakan bagi semua golongan masyarakat. Gaya hidup sehat dapat dimulai dengan tidak merokok dan membiasakan olahraga secara teratur.

Dorongan yang dapat diberikan selanjutnya adalah mengenai perbaikan kondisi lingkungan kerja. Hal ini dapat dilakukan dengan mengganti sirkulasi udara di kantor dengan cara mematikan AC dan membuka jendela, dilanjutkan memperbanyak aktivitas di luar ruangan dan tetap mematuhi protokol kesehatan dan protokol hidup sehat.

"Seperti arahan yang diberikan oleh Presiden Jokowi tentang pelonggaran aturan penggunaan masker di luar ruangan, tetapi tetap wajib menggunakan masker ketika melakukan kontak atau interaksi dengan orang lain," pungkasnya.

Reporter: Putri Oktafiani [cob]