Provinsi NTB dan Lampung kini Mampu Produksi Jagung Bahan Industri Pangan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Jagung merupakan salah satu bahan pangan yang mempunyai banyak manfaat bagi tubuh manusia. Salah satu produk hasil industri olahan jagung atau industri jagung pangan yang sudah banyak dikonsumsi di masyarakat adalah sweetener atau gula jagung.

Menurut Direktur PPHTP Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Gatut Sumbogodjati, sudah ada dua provinsi yang bisa memasok jagung untuk bahan industri pangan tersebut.

"Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Lampung saat ini sudah bisa memasok jagung untuk bahan industri pangan," kata Gatut saat dalam webinar bertajuk “Peluang Pengembangan JRA (Jagung Rendah Aflatoksin) Tingkatkan Nilai Tambah Petani”, Selasa (3/8/2021).

Kelebihan dari usaha budidaya jagung bahan baku industri pangan ini adalah, jagung yang dibeli lebih tinggi 10 persen dari harga beli pabrik pakan. Di sisi lain, karena jagung di panen lebih tua, menjadikan bonggol yang dihasilkan bisa diolah menjadi corncob yang bisa diekspor.

Lebih tingginya harga beli jagung bahan baku industri pangan didasari atas kompensasi yang ingin diberikan kepada petani dan pelaku usaha pasca panen yang sudah bersedia memberikan sedikit lebih banyak jika dibandingkan dengan perlakuan untuk jagung penggunaan lain.

Di sisi petani, mereka harus melakukan budidaya jagung dengan standar budidaya yang baik serta harus melebihkan masa panen lebih tua 10 hari dari jagung biasanya.

Bagi pelaku usaha pascapanen, mereka harus mampu mengeringkan jagung lebih cepat (5 jam sejak panen) dengan metoda pengeringan yang tidak mematikan daya kecambahnya.

Namun, menurut Wisman Djaja, salah satu pembicara dari PT Tereos FKS Indonesia, tidak semua jagung bisa digunakan oleh industri pangan.

“Tidak semua jagung bisa digunakan oleh industri pangan. Hanya jagung yang mempunyai kandungan aflatoxin rendah (kurang dari 20 ppb) yang bisa digunakan. Persyaratan utama lainnya adalah setelah proses pengeringan selesai, mempunyai daya kecambah minimal 70 persen,” ujar Wisman.

Sementara itu, menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi, kebutuhan jagung rendah aflatoxin saat ini lebih dari satu juta ton setiap tahun.

"Tentunya kondisi Indonesia yang saat ini sudah mampu memproduksi lebih dari 20 juta ton jagung setiap tahun harusnya dengan mudah mampu memenuhi kebutuhan tersebut," terangnya.

"Sesuai arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo bahwa saat ini kita tidak hanya bertumpu pada kuantitas saja, tapi juga kualitas yang baik. Alhamdulillah kita sudah ada kerja sama dengan Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI) untuk menyerap penyediaan jagung rendah aflatoxin ini dan saya yakin kita mampu memenuhinya dari dalam negeri sendiri," tambah Suwandi.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel