Proyek Jurassic Park di Taman Komodo, Ini Deretan Pihak yang Untung

Hardani Triyoga, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan alasan mendasar yang menyebabkan Taman Nasional Komodo harus direnovasi sarana dan prasarananya. Salah satunya karena potensi ekonomi sehingga pemerintah perlu membangun semacam 'Jurassic Park' di Pulau Rinca.

Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno mengatakan, hal itu karena taman nasional tersebut terbukti setiap tahunnya mampu jadi penggerak utama ekonomi masyarakatnya.

"Saya kira prime economic mover ini yang jadi kepentingan bersama kita. Oleh karena itu, untuk mengurus taman ini sangat penting menjadi kepentingan kita bersama," kata Wiratno, Rabu, 28 Oktober 2020.

Dia membuktikan, dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Taman Nasional Komodo pada 2013 yang mencapai Rp4,4 miliar mampu menggerakan ekonomi Kabupaten Manggarai Barat US$270 miliar.

"Yang dapat share paling besar hampir 76 persen adalah operator kapal, wisata, hotel, restoran, suvenir 22 persen. PNBP-nya hanya 2 persen dan retribusi daerah Kabupaten Manggarai Barat hanya 0,45 persen," tuturnya.

Kemudian, pada 2016, dari PNBP yang diperoleh Taman Nasional Komodo sebesar Rp22,8 miliar menggerakkan ekonomi hampir Rp458,4 miliar. Lalu, yang dapat share paling besar masih operator wisata dan kapal 51 persen.

"Jadi, teman-teman di operator wisata kapal punya kepentingan besar. Ayo sama-sama kita membangun Taman Nasional Komodo yang keren. Hotel, restoran, share-nya 43 persen ini juga mereka mendapatkan," jelas dia.

Maka itu, ia memperkirakan, dari Rp1 PNBP yang dihasilkan oleh Taman Nasional Komodo mampu memberikan daya ungkit 60 kali lipat ekonomi daerah. Menurut dia, hal ini yang harus dipahami bersama.

Baca Juga: KLHK: Proyek Taman Nasional Komodo Tidak Dikerjakan Pihak Swasta