Proyek PLTA di Indonesia Mulai Diminati Investor

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah investor sudah mulai melirik sektor pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Hal ini dibuktikan dengan sudah adanya penjajakan beberapa investor dengan perusahaan pengembang energi baru terbarukan di Indonesia, khususnya di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Perusahaan penyedia EBT PT Kencana Energi Lestari Tbk sedang dalam proses pembicaraan serius dengan beberapa calon investor strategis.

Jika tercapai kesepakatan, Kencana Energi setidaknya akan melepas 20-25 persen saham pada investor strategis tersebut.

“Saat ini ada beberapa calon investor yang sedang menjajaki peluang untuk berpartisipasi membesarkan bisnis KEEN dengan mengambilalih sekitar 20-25 persen saham. calon investor tersebut terdiri dari strategic investor besar yang bergerak di bidang renewable energy, baik strategic investor internasional maupun nasional,” ujar Wakil Presiden Direktur PT Kencana Energi Lestari Tbk, Wilson Maknawi di Jakarta, Senin (28/12/2020).

Strategic investor tersebut diharapkan mempunyai visi dan misi yang sama dengan Kencana Energi, serta dapat menciptakan sinergi dalam rangka mempercepat pembangunan dan menyediakan EBT di Indonesia yang bersifat energi bersih, ramah lingkungan dan berkelanjutan serta membantu pemerintah mewujudkan pencapaian bauran energi EBT sebesar 23 persen di tahun 2025.

Menurut Wilson Maknawi, penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) pada 2019 merupakan bagian dari strategi untuk terus mengembangkan energi terbarukan bersama mitra yang punya visi yang sama.

“Komitmen kami, setelah IPO, secara skala bisnis KEEN ini makin berkembang dengan kehadiran investor yang punya visi dan misi yang sama dengan kami. Kehadiran investor strategis ini bagian dari rencana kami untuk sama-sama mengembangkan proyek-proyek masa depan yang sudah kami rencanakan,” lanjutnya.

Karena tujuan jangka panjang tersebut, calon investor strategis diharapkan bisa membawa dampak signifikan untuk pengembangan bisnis perusahaan. Sebab, untuk mengembangkan tiga power plant yang sudah dicanangkan perseroan, dibutuhkan dukungan dana investasi sekitar USD 500 juta.

“Untuk itu kita butuh dukungan dari pasar modal dalam bentuk debt atau equity. Lebih dari itu, kita juga butuh satu international big boy untuk bersama-sama berkembang,” ujarnya.

Bersama mitra strategis nanti, Kencana Energi akan mengembangkan tiga proyek baru. Ketiga proyek tersebut meliputi PLTA Kalaena, di Luwu Timur, berkapasitas 75 MW, PLTA Salu Uro di Luwu Utara, berkapasitas 90 MW, dan PLTA Pakkat 2 di Sumatera Utara dengan kapasitas 35 MW.

“Apabila PPA (Power Purchase Agreement) dari proyek ini bisa didapat pada 2021, kami optimistis bisa menyelesaikannya pada 2025, saat itu KEEN diharapkan sudah memiliki total kapasitas sekitar 250 MW,” Direktur Operasional KEEN, Karel Sampe Pajung.

Kehadiran mitra strategis selanjutnya diharapkan bisa memuluskan langkah perusahaan mencapai target untuk mengelola pembangkit listrik dengan kapasitas 500 MW. Rinciannya PLTA dengan kapasitas 250 MW, PLTB berkapasitas 165 MW, dan PLTS berkapasitas 100-125 MW. Tahapan selanjutnya menuju kapasitas 1.000 MW.

Komitmen Perusahaan

PT PLN mengatakan progres proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Jatigede berkapasitas 2 x 55 Mega Watt sudah mencapai 19,04% dan diperkirakan dapat beroperasi pada 2019, Jawa Barat, Kamis (6/4). (Liputan6.com/Immanuel Antonius)
PT PLN mengatakan progres proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Jatigede berkapasitas 2 x 55 Mega Watt sudah mencapai 19,04% dan diperkirakan dapat beroperasi pada 2019, Jawa Barat, Kamis (6/4). (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sejak listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2 September 2019, Kencana Energi sudah mencatat pertumbuhan bisnis yang cukup menjanjikan. Saat IPO, Kencana Energi baru memiliki satu PLTA, yakni PLTA Pakkat melalui PT Energy Sakti Sentosa dengan kapasitas 18 MW.

Setelah IPO, perseroan sukses menyelesaikan pembangunan dan mulai mengoperasikan PLTA Air Putih di Bengkulu melalui PT Bangun Tirta Lestari dengan kapasitas 21 MW.

“Tahun depan, kami akan mengoperasikan PLTMH di Madong, Toraja Utara yang pengerjaannya hampir tuntas sehingga total kapasitas yang dikelola perusahaan akan naik menjadi sekitar 50 MW. Tiga proyek lagi yang sedang kami persiapkan hampir 200 MW,” tutur Wilson Maknawi.

Direktur Keuangan KEEN, Giat Widjaja mengatakan, sejalan dengan penambahan dan optimalisasi kapasitas, kinerja keuangan perusahaan memperlihatkan tren pertumbuhan positif. Aset perusahaan yang pada tahun 2019 sekitar USD 260,8 juta, diperkirakan tumbuh menjadi USD 279,6 juta pada akhir 2020 dan menjadi USD 306,4 juta pada akhir 2021.

Sementara itu, pendapatan perusahaan antara tahun 2019 dan 2020 diperkirakan berkisar USD 23,7 juta, dan selanjutnya ditargetkan naik menjadi USD 47,4 juta pada 2021.

“Sedangkan laba bersih diprediksi meningkat dari USD 3,6 juta pada 2019 menjadi USD 4,7 juta tahun 2020 ini. Selanjutnya laba bersih 2021 ditargetkan menjadi USD 11,1 juta,” ujar Giat Widjaja.

Seiring dengan perkembangan kinerja menggembirakan tersebut, menurut Wilson Maknawi, pihaknya akan terus mendorong pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Alasannya, Indonesia merupakan negara dengan potensi EBT yang melimpah. Dengan demikian tidak perlu khawatir pasokan EBT berkurang bila pembangkit fosil dinonaktifkan satu saat nanti.

“Kalau di luar negeri pada 2050 (pembangkit fosil nonaktif). Kita bisa tahun 2040-2050 kalau kita serius mengembangkan potensi energi hijau yang kita miliki,” ujar Wilson.

Menurut Wilson, jika pasokan energi terbarukan memadai, pemerintah bisa mengalihkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk subsidi bunga kredit proyek EBT, seperti proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), dan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH).

Dengan potensi yang ada, Wilson Maknawi memproyeksikan Indonesia bisa sepenuhnya menggunakan pembangkit ramah lingkungan dalam 20 tahun ke depan. Perhitungannya, 10 tahun pertama agar pembangkit berbasis fosil yang baru beroperasi bisa kembali modal. Sedangkan lima tahun sisanya merupakan masa transisi untuk mengurangi pemakaian pembangkit fosil.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: